Mbah Lasiyo dan Warisan Islam dalam Tradisi Sedulur Sikep

- Selasa, 25 November 2025 | 06:00 WIB
Mbah Lasiyo dan Warisan Islam dalam Tradisi Sedulur Sikep

Agama Kaum Sedulur Sikep

Oleh: Arif Wibowo

Kemarin, berita meninggalnya Mbah Lasiyo sempat ramai di TikTok. Beliau adalah sesepuh Sedulur Sikep Samin yang dimakamkan dengan tata cara Islam. Ini menarik, karena memang Islam adalah agama yang dianut sedulur Sikep, meski banyak akademisi menyebut mereka penganut agama Adam.

Nah, soal sebutan agama Adam ini ada ceritanya. Dulu, Samin Surosentiko pelopor ajaran Samin mengaku dapat wahyu dari Nabi Adam saat melawan penarikan pajak dan kerja rodi. Menurut saya, kaum santri perlu mengkaji lebih dalam nih, apa sih bedanya wahyu sama wangsit?

Waktu saya ajak santri Attaqwa ke Museum Radya Pustaka setahun lalu, teman saya Pak Totok Yasmiran seorang filolog di sana bilang kalau sedulur Sikep punya dua kitab utama: Serat Punjer Wiwitan dan Serat Tapel Adam.

Serat Punjer Wiwitan sampai sekarang cuma hidup dalam tuturan lisan, naskah fisiknya belum ditemukan. Sementara Serat Tapel Adam isinya tentang penciptaan manusia, sejarah 25 Nabi dan Rasul, plus kisah-kisah Israiliyat.

Cerita Pak Totok ini bikin saya teringat acara tirakatan peringatan 500 tahun dakwah Walisongo di rumah almarhum Mas Slamet Gundono, dalang wayang suket. Saat itu hadir juga seniman dari komunitas Samin Surosentiko.

Yang saya catat betul dari pertemuan itu: para seniman sedulur Sikep menyebut tiga nama yang selalu disebut dalam ritus mereka, bahkan yang paling sakral sekalipun Kanjeng Nabi Muhammad, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan Sunan Kalijaga.

Nuansa keislaman mereka juga kentara saat aksi penolakan pabrik semen di Kendeng. Para petani Sedulur Sikep berdemonstrasi sambil melantunkan Sholawat Bumi sebuah pujian pada Nabi Muhammad yang berisi ajakan merawat bumi.

"Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili, La ilaha illallah, Muhammadur rasulullah"

Maka, sudah saatnya santri menulis ulang sejarah negeri ini. Biar kaum rahayu dunia maya yang suka menyebut Islam agama gurun paham bahwa kenyataan sejarah tak selalu sesuai narasi mereka.

Kenyataan itu pahit.
Memang, kenyataan itu sangatlah pahit.

(fb)

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar