Gencatan Senjata Gaza Tak Mampu Hentikan Derita Anak-anak

- Selasa, 25 November 2025 | 05:25 WIB
Gencatan Senjata Gaza Tak Mampu Hentikan Derita Anak-anak

Gaza – Dunia seolah tak kunjung belajar. Di tengah gencatan senjata yang seharusnya memberi ruang bernapas, nyawa anak-anak di Gaza terus melayang. Menurut UNICEF, rata-rata dua anak tewas setiap harinya akibat agresi Israel yang berlanjut. Gencatan yang berlaku sejak 11 Oktober itu rupanya tak cukup untuk menghentikan derita mereka.

Juru bicara UNICEF Ricardo Perez tak bisa menyembunyikan kepedihannya. Dalam konferensi pers di Jenewa akhir pekan lalu, ia menyampaikan fakta yang memilukan. Seorang anak perempuan tewas di Khan Younis akibat serangan udara Israel pada Kamis. Sehari sebelumnya, tujuh anak lain meregang nyawa di Kota Gaza.

"Angka-angka ini mewakili anak-anak yang memiliki keluarga dan impian,"

ungkap Perez dengan suara berat. Ia menegaskan, ini bukan sekadar data statistik. Setiap angka adalah nyawa yang hilang, masa depan yang diputus sebelum waktunya.

Sejak gencatan senjata dimulai, sedikitnya 67 anak telah tewas. Puluhan lainnya menderita luka-luka. Namun begitu, situasi di lapangan justru semakin suram. Perez menggambarkan kehidupan anak-anak Gaza yang dipaksa hidup dalam keputusasaan, tanpa tempat yang benar-benar aman untuk berlindung.

Di sisi lain, upaya bantuan yang ada masih jauh dari memadai. Perez mengakui dengan terus terang betapa terbatasnya yang bisa dilakukan.

"Jika bantuan bisa tiba lebih cepat dan dalam jumlah yang memadai, kami dapat melakukan lebih banyak untuk menyelamatkan nyawa,"

katanya. Rasanya seperti berteriak di tengah badai.

Bayangkan saja. Ratusan ribu anak harus menghadapi musim dingin dalam tenda-tenda darurat. Tanpa pemanas, tanpa isolasi yang layak, bahkan tanpa selimut yang cukup. Kondisi ini tidak hanya memperburuk krisis kemanusiaan, tapi juga menciptakan ancaman baru: penyakit dan kedinginan yang bisa berakibat fatal.

Laporan UNICEF ini seperti pengingat pahit. Meski dunia terus menyerukan penghentian kekerasan, operasi militer Israel di wilayah padat penduduk tetap berjalan. Dan seperti biasa, anak-anak yang seharusnya dilindungi justru menjadi korban paling rentan dalam konflik yang tak kunjung usai ini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar