Persoalan tak berhenti di urusan kesejahteraan. Jendryk juga menyoroti fasilitas sekolah yang jauh tertinggal dibanding sekolah di kota. Menurutnya, ini sangat menghambat proses belajar-mengajar.
Saat ujian nasional berbasis komputer digelar, misalnya. Mereka sampai harus meminjam laptop milik guru karena tak punya komputer yang memadai.
Meski begitu, semangat mengabdinya tak pernah padam. Hanya saja, Jendryk berharap pemerintah lebih memperhatikan pendidikan di daerah terpencil. Ia ingin guru-guru seperti dirinya juga mendapat kesempatan meningkatkan kompetensi.
Di balik semangat mereka, ada harapan besar: pemerataan kualitas pendidikan yang benar-benar sampai ke pelosok negeri.
Artikel Terkait
Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual
Debt Collector di Metro Diamankan, Diduga Gelapkan Mobil Debitur Rp285 Juta
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin