Guru di Ujung Talaud: Gaji Susut, Komputer Pinjam, Semangat Tak Pernah Luntur

- Senin, 24 November 2025 | 18:48 WIB
Guru di Ujung Talaud: Gaji Susut, Komputer Pinjam, Semangat Tak Pernah Luntur

TALAUD – Menjelang peringatan Hari Guru Nasional 2025, ada satu hal yang tak banyak disorot: suara para guru di daerah terpencil dan kepulauan. Suara mereka mungkin tak sekeras di kota, tapi isinya sarat dengan keluhan yang sudah menahun.

Bayangkan saja, mereka harus mengabdi di daerah yang justru paling membutuhkan perhatian, namun malah terkesan dilupakan. Mulai dari urusan tunjangan yang tiba-tiba hilang, sampai sulitnya mengembangkan kompetensi karena fasilitas yang serba terbatas.

Ambil contoh Jendryk Adilis, guru di SMA Negeri 1 Piningkatan Tule, Kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Beberapa waktu terakhir, dia dan rekan-rekannya tak lagi menerima Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).

“Bukan hanya saya tapi seluruh guru di tempat saya sudah tidak lagi menerima tambahan penghasilan. Jadi, kami itu hanya bergantung dari gaji pokok yang pas-pasan,” ucap Jendryk.

Alasannya? Status desa tempat sekolahnya berubah menjadi desa berkembang. Padahal, biaya hidup di sana tidak murah, apalagi bagi guru pendatang seperti dirinya.

“Makanya kami guru-guru yang dari luar daerah hanya hidup mengandalkan gaji yang pas-pasan. Padahal di sini biaya hidup cukup mahal, khususnya bagi kami yang pendatang,” tambahnya.

Persoalan tak berhenti di urusan kesejahteraan. Jendryk juga menyoroti fasilitas sekolah yang jauh tertinggal dibanding sekolah di kota. Menurutnya, ini sangat menghambat proses belajar-mengajar.

Saat ujian nasional berbasis komputer digelar, misalnya. Mereka sampai harus meminjam laptop milik guru karena tak punya komputer yang memadai.

“Komputer terutama, bahkan yang lalu untuk UNBK terpaksa menggunakan laptop beberapa orang guru,” katanya.

Meski begitu, semangat mengabdinya tak pernah padam. Hanya saja, Jendryk berharap pemerintah lebih memperhatikan pendidikan di daerah terpencil. Ia ingin guru-guru seperti dirinya juga mendapat kesempatan meningkatkan kompetensi.

“Biasanya kalau ada pengembangan untuk peningkatan kompetensi guru, kami tidak bisa ikut karena kurang informasi, dan terkendala dana, karena sekolah tidak bisa tanggung untuk pengembangan diri,” harap Jendryk.

Di balik semangat mereka, ada harapan besar: pemerataan kualitas pendidikan yang benar-benar sampai ke pelosok negeri.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar