TALAUD – Menjelang peringatan Hari Guru Nasional 2025, ada satu hal yang tak banyak disorot: suara para guru di daerah terpencil dan kepulauan. Suara mereka mungkin tak sekeras di kota, tapi isinya sarat dengan keluhan yang sudah menahun.
Bayangkan saja, mereka harus mengabdi di daerah yang justru paling membutuhkan perhatian, namun malah terkesan dilupakan. Mulai dari urusan tunjangan yang tiba-tiba hilang, sampai sulitnya mengembangkan kompetensi karena fasilitas yang serba terbatas.
Ambil contoh Jendryk Adilis, guru di SMA Negeri 1 Piningkatan Tule, Kecamatan Melonguane Timur, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Beberapa waktu terakhir, dia dan rekan-rekannya tak lagi menerima Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
Alasannya? Status desa tempat sekolahnya berubah menjadi desa berkembang. Padahal, biaya hidup di sana tidak murah, apalagi bagi guru pendatang seperti dirinya.
Artikel Terkait
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini