Tragedi di Canggu: Backpacker Tewas, Enam Turis Lainnya Keracunan di Hostel Bali

- Senin, 24 November 2025 | 16:24 WIB
Tragedi di Canggu: Backpacker Tewas, Enam Turis Lainnya Keracunan di Hostel Bali
Kasus Kematian Backpacker di Bali

Suasana riang Canggu, Bali, mendadak muram Selasa (2/9) lalu. Sekitar pukul 11.00 WITA, seorang backpacker asal China, Deqing Zhuoga (25), ditemukan tak bernyawa di dalam kamar hostel tempatnya menginap. Perempuan berusia 25 tahun itu sebelumnya dilaporkan mengalami diare dan muntah-muntah.

Yang bikin situasi makin mencekam, ternyata ada enam turis lain yang nginep di tempat yang sama mengalami gejala serupa. Mereka harus dilarikan ke rumah sakit. Untungnya, setelah mendapat perawatan, kondisi mereka membaik dan dinyatakan sembuh.

Keenam turis itu berasal dari berbagai negara. Ada Melanie Irene (22) dan Alisa Kokonozi (22), keduanya warga negara Jerman. Lalu ada juga Mingmin Lei (37) dan Zhou Shanshan (29) dari China. Kemudian Alahmadi Yousef Mohammed (26) dari Arab Saudi, serta Cana Clifford Jay (27) asal Filipina.

Lantas, bagaimana kronologi lengkapnya hingga Deqing Zhuoga meninggal dunia?

Awal Mula di Agustus

Semuanya berawal ketika Deqing check in ke hostel itu pada 12 Agustus 2025. Menurut penyelidikan polisi, menariknya, dia cuma sekali makan di hostel itu, yaitu tepat setelah dia tiba dan mendaftar.

Hal ini diungkapkan oleh Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, Pejabat Sementara Kasubsipenmas Polres Sihumas Polres Badung.

"Berdasarkan data yang ada di petugas resepsionis, Deqing tidak pernah memesan makanan di hostel. Deqing hanya pernah makan di hostel Clandestino sebanyak 1 kali saja yakni di tanggal 12 Agustus 2025, saat pertama kali menginap," jelasnya pada Jumat (21/11).

Kondisi Memburuk di September

Keadaan mulai berubah drastis pada 1 September. Sekitar pukul 8 malam, Deqing mengeluh sakit kepala dan punggungnya ke resepsionis. Cuma 15 menit kemudian, keluhannya berlanjut. Seorang karyawan pun menengoknya ke kamar dan menemukan Deqing dalam keadaan lemas sambil muntah-muntah.

Karyawan menawarkan makanan, tapi ditolak. Deqing malah minta pisang dan air putih saja.

Khawatir dengan kondisinya, karyawan kembali mengecek pada pukul 23.30 WITA. Saat itu, tubuh Deqing semakin lemas. Akhirnya, dia dibawa ke klinik menggunakan transportasi online.

Pukul 00.30 WITA, mereka tiba di klinik. Sayangnya, Deqing menolak dirawat karena terkendala biaya yang sekitar Rp 3 juta. Dokter memberinya resep obat, yang kemudian dibelinya di apotek, sebelum akhirnya dia kembali ke hostel bersama sang karyawan.

Pukul 01.00 WITA, Deqing sampai di hostel, minum obat, dan beristirahat.

Hari Naas

Keesokan harinya, 2 September, sekitar pukul 06.00 WITA, teman sekamar Deqing, Lei Mingmin, tiba-tiba menggigil dan harus dilarikan ke rumah sakit. Menurut polisi, lima turis lainnya juga mengalami nasib serupa dengan gejala diare dan muntah.

Tragisnya, pukul 11.00 WITA, Deqing ditemukan sudah meninggal dunia di kamarnya.

Penyelidikan Berlanjut

Hingga 24 November 2025, polisi mengungkapkan bahwa semua korban menunjukkan gejala yang sama: muntah dan diare. Tapi, asal-usul gejala ini masih jadi misteri. Pasalnya, para turis yang selamat itu sudah meninggalkan hostel, bahkan sudah keluar dari Bali.

Penyelidikan kini fokus pada kebersihan lingkungan hostel. Di sisi lain, Dinkes Badung menyoroti fakta bahwa hostel itu dihuni banyak orang dan menggunakan fasilitas kamar mandi bersama. Kondisi seperti ini, menurut mereka, bisa meningkatkan risiko penularan penyakit jika kebersihannya tidak dijaga dengan optimal.

Meski begitu, Dinkes menegaskan bahwa analisis ini baru bersifat indikatif. Penyebab pastinya hanya bisa dipastikan lewat pemeriksaan laboratorium pada pasien. Sayangnya, hal itu sudah tidak mungkin dilakukan karena para turisnya sudah pada pulang.

Sementara itu, dari sisi medis, dr. Kunthi Yulianti, Dokter Forensik RSUP Prof IGNG Ngoerah, menyampaikan pendapatnya.

Meski tidak bisa memastikan penyebab kematian dengan absolut, berdasarkan hasil autopsi, korban diduga meninggal karena mengidap penyakit iritasi saluran pencernaan.

"Saya menyimpulkan bahwa secara pasti sebab kematian ini memang masih abu-abu," ujarnya dalam jumpa pers di Halaman Polres Badung, Senin (24/11). "Tapi secara pemeriksaan makroskopi saya dari autopsi bahwa sebab kematian karena iritasi saluran pencernaan yang menimbulkan diare dan mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit tidak dapat disingkirkan."

Jadi, sampai saat ini, kasus ini masih menyisakan teka-teki yang belum terpecahkan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar