Saham AS Terbelah: S&P 500 Cetak Rekor, Dow Jones Tergelincir Jelang Keputusan Fed

- Rabu, 28 Januari 2026 | 06:40 WIB
Saham AS Terbelah: S&P 500 Cetak Rekor, Dow Jones Tergelincir Jelang Keputusan Fed

Pasar saham Amerika Serikat menutup sesi Selasa dengan performa yang beragam. Di satu sisi, indeks S&P 500 berhasil mencatatkan rekor penutupan baru. Namun di sisi lain, Dow Jones justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Perbedaan ini tak lepas dari tarik-menarik antara sektor teknologi yang masih kuat dan tekanan pada saham-saham industri tertentu.

Investor sendiri tampaknya sedang menahan napas. Mereka menunggu dua momen krusial: keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan Rabu ini, dan laporan kinerja kuartalan dari raksasa-raksasa teknologi yang akan segera menyusul. Semuanya jadi bahan pertimbangan.

Secara angka, Dow Jones anjlok 0,8 persen ke level 49.003,41 poin. Kontras banget dengan kinerja S&P yang naik 0,4 persen ke 6.979,49 poin dan Nasdaq yang melonjak 0,9 persen ke 23.817,10 poin. Perbedaan yang mencolok.

Lalu, apa yang menekan Dow? UnitedHealth Group jadi penyumbang terbesarnya. Saham perusahaan kesehatan itu ambruk, ikut-ikutan dengan sektor sejenis, setelah usulan kenaikan pembayaran untuk rencana Medicare Advantage tahun depan ternyata jauh lebih rendah dari yang diharapkan pasar.

Boeing juga ikut memberatkan. Produsen pesawat itu tercatat sebagai salah satu saham dengan kerugian terparah di indeks Dow, padahal mereka baru saja melaporkan laba triwulanan. Pasar rupanya punya kekhawatiran lain.

Di lain pihak, semangat justru datang dari saham-saham chip atau semikonduktor. Mereka terus meroket dan jadi penyangga utama bagi S&P dan Nasdaq yang memang didominasi teknologi. Bahkan, S&P 500 sempat menyentuh puncak intraday tertinggi sepanjang masa di angka 6.989,24 poin. Sungguh momentum yang impresif.

Fed dan Momen Tunggu

Jelang pertemuan kebijakan Federal Reserve yang berlangsung dua hari, pasar cenderung diam dan waspada. Mereka memilih untuk menunggu. Kehati-hatian ini bahkan membuat pengumuman Presiden Donald Trump soal kenaikan tarif impor untuk Korea Selatan dari 15% jadi 25% hanya memberi dampak kecil pada sentimen.

Semua mata tertuju pada The Fed. Analis secara umum memprediksi bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini. Para pembuat kebijakan diyakini masih ingin mengamati dulu efek dari pelonggaran kondisi keuangan, tren inflasi yang mulai stabil, dan pasar tenaga kerja yang menunjukkan perlambatan bertahap.

Data-data terbaru juga mengisyaratkan hal yang sama: kecil kemungkinan The Fed akan memberi sinyal pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Mereka tampaknya ingin lebih yakin dulu bahwa inflasi benar-benar akan bergerak menuju target 2 persen secara berkelanjutan.

Blerina Uruci, Kepala Ekonom AS di T. Rowe Price, memberikan pandangannya.

"Pertemuan FOMC Januari ini seharusnya berjalan mulus. Konsensusnya adalah 'kebijakan dovish': suku bunga dipertahankan, dengan komunikasi yang mencerminkan tidak adanya kecepatan untuk memotong suku bunga lebih lanjut. Pernyataan mereka kemungkinan akan menekankan stabilitas kebijakan saat ini, sambil tetap waspada pada kondisi ekonomi," jelas Uruci.

“Meski ada perbedaan pandangan di internal The Fed antara kubu yang pro pelonggaran dan yang pro pengetatan, kami mempertahankan pandangan bahwa suku bunga akan stabil di paruh pertama tahun ini. Potensi penurunan suku bunga baru mungkin terjadi di paruh kedua. Risikonya adalah jika inflasi melambat lebih cepat, yang bisa memicu lebih banyak pemotongan suku bunga daripada yang diperkirakan pasar saat ini,” tambahnya.

Selain soal timing pemotongan suku bunga, investor juga bakal menyimak kabar tentang siapa calon gubernur The Fed berikutnya. Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada bulan Mei, jadi isu suksesi ini mulai menghangat.

Jadi, sesi Selasa ini seperti babak pembuka. Ketegangan sebenarnya masih menunggu di hari-hari berikutnya, setelah keputusan The Fed dan laporan-laporan perusahaan besar mulai bergulir.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar