Rapat Ulama PBNU Pastikan Gus Yahya Tak Akan Dimakzulkan

- Senin, 24 November 2025 | 00:36 WIB
Rapat Ulama PBNU Pastikan Gus Yahya Tak Akan Dimakzulkan
Hasil Rapat Ulama PBNU

Suasana di kantor PBNU pada Senin malam (23/11) terasa tebal nuansa kebersamaannya. Rapat yang menghadirkan para ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu akhirnya menghasilkan keputusan penting: tidak akan ada pemakzulan terhadap Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, dari posisinya sebagai ketua umum.

Usai rapat, Katib Aa'm Ahmad Said Asrori tampil memberikan penjelasan. Ia terlihat lega.

"Sepakat kepengurusan PBNU harus selesai sampai satu periode yang muktamarnya kurang lebih satu tahun lagi. Semuanya, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri, semua sepakat begitu. Semua gembleng 100 persen ini,"

Dari pertemuan yang cukup alot itu, tercetus tiga poin utama. Poin pertama, seperti yang sudah disinggung, adalah penegasan bahwa Gus Yahya tetap bertahan. Di sisi lain, para ulama juga mengusung usulan untuk menggelar silaturahmi dalam skala yang lebih besar lagi. Mereka merasa hal itu diperlukan.

Poin terakhir yang tak kalah penting adalah ajakan untuk bersama-sama bertafakur dan bermujahadah. Ini semacam renungan kolektif, sebuah ikhtiar batin untuk mencari jalan terbaik demi kemaslahatan warga NU dan tentu saja, Indonesia secara keseluruhan.

"Bersama-sama bertafakur, bermujahadah, selalu memohon pertolongan demi kebaikan semuanya di antara kita semua. Itu yang paling pokok,"

Asrori kembali menegaskan posisi rapat malam itu dengan nada yang sangat pasti.

"Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada. Ini sekali lagi saya tegaskan, tidak ada. Semua harus, semuanya pengurusan harian PBNU mulai Rais Aam sampai jajaran, Ketua Umum dan jajaran sempurna sampai Muktamar yang akan datang,"

Sementara itu, Gus Yahya sendiri yang hadir dalam kesempatan itu memberikan gambaran tentang peserta rapat. Menurutnya, pertemuan itu dihadiri sekitar 50 orang kiai yang datang dari berbagai penjuru daerah.

"Dalam kesempatan pertemuan malam ini yang dihadiri kira-kira sekitar 50 orang kiai dari berbagai daerah dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan ini ada Syekh Ali Akbar Marbun dari Medan, Sumatera Utara,"

Tak hanya yang hadir langsung, rapat juga diikuti secara daring oleh puluhan kiai lain. Gus Yahya menyebut angka sekitar 50-60 kiai yang ikut via Zoom, kebanyakan karena faktor usia yang sudah sepuh atau jarak tempuh yang terlalu jauh. Ia, bagaimanapun, tak merinci siapa saja nama-nama yang hadir.

Soal Surat yang Mengguncang

Keputusan rapat ini tentu meredakan ketegangan yang sempat muncul. Sebelumnya, beredar sebuah surat yang isinya meminta Gus Yahya mundur dari jabatannya. Surat yang dikeluarkan pada 20 November 2025 itu ditandatangani langsung oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dan disebut sebagai hasil musyawarah dengan dua Wakil Rais Aam.

Isi surat itu terbilang tegas. Disebutkan bahwa KH Yahya Cholil Staquf diberi waktu tiga hari untuk mengundurkan diri secara sukarela sejak surat keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU diterima.

Dan jika dalam batas waktu itu ia tak kunjung mundur, konsekuensinya jelas: Rapat Harian Syuriyah PBNU akan memutuskan untuk memberhentikannya secara paksa dari posisi Ketua Umum. Untungnya, skenario itu akhirnya tak perlu terjadi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar