Prabowo Yakin Program Makan Bergizi Gratis Ciptakan 3 Juta Lapangan Kerja dan Dongkrak Ekonomi Desa

- Rabu, 03 Juni 2026 | 20:15 WIB
Prabowo Yakin Program Makan Bergizi Gratis Ciptakan 3 Juta Lapangan Kerja dan Dongkrak Ekonomi Desa

Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinannya bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan berjalan sukses dan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Dalam pandangannya, program ini tidak hanya mampu menggerakkan peredaran uang hingga ke pelosok desa, tetapi juga berpotensi membuka tiga juta lapangan pekerjaan baru.

“Kalau nanti program ini berjalan di puncaknya, kita bisa memberi makan 80 sekian juta, 83-85 juta, 30 ribu dapur berjalan dengan benar dan baik, kita bisa menghasilkan 1,5 juta pekerjaan formal dan mungkin 1,5 juta lagi pekerjaan yang nyata di ekonomi pedesaan, 3 juta lapangan kerjaan. Uang yang beredar di desa akan sangat besar. Jadi saudara-saudara, saya yakin dan saya percaya program ini akan berhasil,” ujar Prabowo dalam sambutannya pada acara Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026).

Kepala Negara menekankan bahwa program MBG merupakan langkah strategis pemerintah untuk menjamin pemenuhan gizi anak-anak Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia nasional. Menurutnya, konsep program ini pada dasarnya sangat sederhana, yaitu menjawab kenyataan bahwa masih banyak anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan pagi, bahkan jarang mengonsumsi makanan bergizi di rumah.

“Makan bergizi gratis ini konsepnya adalah sangat sederhana, bahwa kenyataan kita menemukan bahwa sebagian dari anak-anak kita tiap pagi berangkat ke sekolah tidak makan pagi. Bahkan di rumahnya jarang makan yang bergizi,” kata Prabowo.

Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa kekurangan gizi pada anak dapat menghambat tumbuh kembang dan membatasi kemampuan mereka untuk mencapai potensi secara optimal. Kondisi ini, menurutnya, masih ditemukan di sejumlah wilayah dengan angka prevalensi kekurangan gizi yang cukup tinggi, bahkan mendekati 30 persen.

“Ada bagian-bagian negara kita yang lebih dari 20 persen, mendekati 30 persen, anak-anak kita kurang gizi. Yang terjadi adalah apa yang disebut stunting, sel otak kurang berkembang, sel otot kurang berkembang, sel otak, otot dan tulang kurang berkembang,” ucap dia.

Dampak dari kekurangan gizi, lanjut Prabowo, tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan. Kondisi tersebut juga membatasi kesempatan anak-anak untuk maju di bidang pendidikan dan pekerjaan di masa depan. Pengalaman ini, menurutnya, ia temui secara langsung saat berinteraksi dengan masyarakat di berbagai daerah.

“Artinya, satu, dia tidak akan berkembang sesuai potensi dia sebagai manusia normal, berarti kemampuan dia di bawah normal. Berarti yang kita menemukan dia kadang-kadang untuk lulus SD saja susah. Bahkan mungkin dia tidak bisa mengganti pekerjaan bapaknya sebagai petani, sebagai buruh harian atau sebagai nelayan,” ujar Prabowo.

Oleh karena itu, Presiden menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) dan Program MBG memiliki peran strategis dalam mendukung kelompok masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat kualitas generasi penerus bangsa. Ia juga menyebut bahwa sejumlah negara maju telah menerapkan program serupa untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusianya.

“Jadi program ini adalah sangat penting. Dan program ini, kalau berhasil, akan menimbulkan suatu kemajuan yang sangat besar untuk ekonomi kita,” ujarnya.

Di sisi lain, Prabowo menilai bahwa manfaat Program MBG tidak hanya terbatas pada sektor kesehatan dan pendidikan. Melalui operasional dapur-dapur MBG, hasil produksi petani dan pelaku usaha lokal dapat terserap, sehingga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa.

Prabowo meyakini bahwa pelaksanaan program ini secara optimal akan menjangkau puluhan juta penerima manfaat serta membuka jutaan lapangan pekerjaan baru. Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa program tersebut akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar