“Alhamdulillah aman, erupsinya lari ke arah selatan. Di Ranu Kumbolo aman, semua pendaki di sini baik-baik saja. Nggak ada yang turun terburu-buru, semuanya tetap tenang. Di Ranu Kumbolo Alhamdulillah clear, steril,” jelas Fathur.
Namun begitu, cerita lain datang dari Putri, pendaki lain asal Surabaya. Ia sempat panik karena mendapat puluhan panggilan tak terjawab dari keluarganya. Keluarganya sudah tahu Semeru erupsi, sementara Putri di atas sana tak bisa dihubungi karena sinyal putus.
“Sudah banyak yang tanya karena kabarnya simpang siur. Katanya ada 178 pendaki terjebak, jadi orang di rumah panik semua. Tapi susah sinyal, baru bisa memberi kabar waktu turun sampai Pos Tiga. Saya minta maaf ke keluarga,” ucap Putri, suaranya bergetar.
Ini adalah pendakian pertamanya ke Ranu Kumbolo, yang terletak di ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Makanya ia mengaku agak lambat dalam perjalanan. Beruntung, pemandu mendampingi dan menenangkan mereka.
“Kemarin sampai sini jam 11 siang, baru jalan ke Ranu Kumbolo jam 12.45. Sampai danau jam 20.00 WIB. Dengar kabar erupsi dari guide. Saya tanya aman nggak? Dijawab aman, akhirnya lanjut sampai sana,” paparnya.
Meski sempat cemas, mereka semua akhirnya bisa turun dengan selamat. Erupsi Semeru meninggalkan cerita berbeda bagi tiap pendaki yang ada di sana malam itu.
Artikel Terkait
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar
Nakhoda dan ABK Mesin KM Putri Sakinah Resmi Jadi Tersangka
Mensos: Sekolah Rakyat Tambah 200 Titik, Targetkan 45.000 Siswa pada 2027
Gus Yahya Tegaskan Sikap: Hukum Harus Jalan Meski untuk Saudara Sendiri