Alasannya jelas. Menurut Zulhas, proses penyelenggaraan program, terutama soal menu, harus bisa diukur dengan benar. Tanpa ahli, sulit menjamin kualitas gizi yang diberikan.
Tak cuma itu, Zulhas juga berharap para ahli gizi ini bisa lebih proaktif mengawasi makanan yang beredar, terutama di sekitar sekolah. Dia geram melihat kebiasaan anak-anak jajan minuman manis dan permen. "Anak-anak ini suka kena penyakit gula," ujarnya, menyoroti tingginya kasus penyakit gula di Indonesia, yang kini tak hanya menyerang orang dewasa.
Jadi, kolaborasi antara BGN dan Persagi bukan sekadar formalitas. Ini langkah krusial untuk memastikan program ini tak sekadar gratis, tapi juga benar-benar bergizi.
Artikel Terkait
Pemkab Bone dan BPVP Bantaeng Gelar Pelatihan Koperasi untuk Seluruh Kecamatan
Gubernur Sulsel Resmi Buka MTQ ke-34, Diikuti 1.044 Peserta
Tiket Konser LANY di Jakarta Dibuka, Harga Mulai Rp850 Ribu
Makassar Berpotensi Hujan Ringan Siang Ini, Suhu Capai 34 Derajat Celsius