Merespon kejadian ini, Carik Kawedanan Radya Kartiyasa Keraton Yogyakarta, Nyi Raden Wedana Noorsundari, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah mengadakan pertemuan dengan OPD setempat, seperti MPP, Lurah, Kapolsek, dan Danramil," katanya via pesan singkat pada Kamis (20/11). Tujuannya satu: mencari solusi terbaik agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Ditegaskannya, pelaku dalam kasus ini sama sekali bukan pemandu resmi yang dikirim oleh keraton. "Injih, benar bukan pemandu resmi dari Keraton," tegas Noorsundari. Soal kemungkinan proses hukum, pihak keraton masih menimbang-nimbang. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan, mulai dari hukum, sosial, hingga ekonomi.
Lalu, bagaimana caranya agar para pelancong terhindar dari jebakan semacam ini? Noorsundari punya tips sederhana. "Jangan ragu untuk meminta diperlihatkan kartu identitas. Semua pemandu resmi kami pasti memakai ID card," ujarnya. Kalau ragu, wisatawan boleh menolak dan bahkan melaporkan orang yang mencurigakan itu kepada pihak berwajib, Kantor Kemantren, Polsek, atau Koramil.
Dan satu hal lagi, jangan sungkan untuk bertanya langsung ke loket tiket. "Karena sudah jelas resminya," pungkasnya. Lebih baik bertanya sebanyak mungkin daripada menyesal kemudian.
Artikel Terkait
Saldo Rp 500 Ribu: Ironi Kas Daerah di Balik Gaya Gubernur Jabar
KPK Tunggu Audit BPK untuk Tentukan Kerugian Negara dari Kasus Kuota Haji
Warkop di Bundaran HI Ditegur, Meja Kursi di Trotoar Harus Minggir
Pertemuan Solo: Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Bertamu, Koalisi Penggugat Retak