BIN–Australia–Timor Leste Jalin Kolaborasi Intelijen, Pengamat: Sinyal Baru Geopolitik Indo-Pasifik

- Rabu, 19 November 2025 | 09:25 WIB
BIN–Australia–Timor Leste Jalin Kolaborasi Intelijen, Pengamat: Sinyal Baru Geopolitik Indo-Pasifik

Pengamat: Kerja Sama Intelijen BIN–Australia–Timor Leste Jadi Sinyal Baru Geopolitik Indo-Pasifik

JAKARTA – Langkah Badan Intelijen Negara (BIN) menjalin kerja sama dengan Australia dan Timor Leste dinilai sebagai sebuah keniscayaan di tengah kompleksitas tantangan keamanan abad ke-21. Menurut Pengamat Intelijen dan Geopolitik, Amir Hamzah, kerja sama intelijen tidak boleh lagi dibaca melalui kacamata sejarah kelam, melainkan dengan perspektif ancaman regional yang semakin mengglobal.

“Era globalisasi membuat ancaman tidak lagi mengenal batas negara. Kejahatan seperti judi online, narkoba, hingga perdagangan manusia terhubung lintas wilayah. Kerja sama intelijen adalah kebutuhan, bukan pilihan,” tegas Amir Hamzah dalam analisisnya, Rabu (19/11/2025).

Amir menjelaskan, perkembangan teknologi dan jaringan kejahatan transnasional memaksa negara untuk tidak berdiri sendiri. Indonesia memerlukan akses informasi yang cepat, presisi, dan terintegrasi, terutama dari negara-negara dalam satu wilayah keamanan strategis yang sama.

Ia menyoroti tiga ancaman utama yang mendesak perlunya kolaborasi ini: judi online lintas negara yang memanfaatkan server asing, perdagangan narkoba dengan rute penyelundupan dari Asia Tenggara ke Australia, serta perdagangan manusia yang memanfaatkan celah perbatasan.

“Dalam kasus-kasus tersebut, kerja sama intelijen tidak hanya mempercepat pertukaran informasi, tetapi juga memungkinkan operasi bersama yang lebih efektif. Namun, kerja sama ini tidak boleh membuka rahasia milik Indonesia, termasuk kapasitas intelijen maupun dokumen sensitif lainnya,” tegas Amir.

Meski mengakui catatan sejarah hubungan Jakarta–Canberra yang kerap diwarnai ketegangan, terutama menyangkut dukungan Australia terhadap kemerdekaan Timor Timur, Amir menegaskan bahwa lanskap geopolitik kini telah berubah drastis.

“Indonesia dan Australia kini berada dalam posisi saling membutuhkan, terutama dalam konteks meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan,” ujarnya.

Australia, yang semakin dekat dengan blok keamanan AUKUS dan memperkuat postur militernya di kawasan Indo-Pasifik, dinilai melihat Indonesia sebagai mitra kunci dalam menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional. Sebaliknya, Indonesia membutuhkan akses informasi dari Australia terkait aktivitas militer negara besar di kawasan.

Sementara itu, kerja sama dengan Timor Leste disebut Amir berada dalam koridor yang berbeda, yaitu lebih pada pembinaan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.

“Timor Leste adalah negara muda yang membutuhkan dukungan Indonesia dalam membangun sistem intelijennya. Mereka membutuhkan pelatihan sumber daya manusia, dan Indonesia memiliki semua fasilitas untuk itu, termasuk Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN),” ungkapnya.

Amir merinci manfaat kerja sama ini bagi kedua belah pihak. Bagi Indonesia, kerja sama ini penting untuk menjaga stabilitas kawasan Nusa Tenggara dan perbatasan dengan Timor, mencegah infiltrasi sindikat kriminal, serta menguatkan pengaruh diplomatik dan keamanan. Sementara bagi Timor Leste, kerja sama ini memberikan akses pendidikan dan pelatihan intelijen profesional, memperkuat kapasitas keamanan nasional, dan memperbaiki hubungan struktural dengan Indonesia.

“Ini adalah bentuk soft power Indonesia di kawasan, sekaligus investasi jangka panjang dalam menciptakan lingkungan keamanan yang stabil,” tambah Amir.

Amir Hamzah menyimpulkan bahwa kerja sama intelijen trilateral ini merupakan bagian dari strategi besar Indonesia menghadapi dinamika geopolitik Indo-Pasifik. Ia merangkum tiga makna strategisnya: memperkuat ketahanan nasional menghadapi kejahatan lintas negara, menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain utama di kawasan, serta menghadapi dinamika Laut China Selatan dengan pendekatan realistis.

“Kerja sama ini bukan tanda ketergantungan, melainkan tanda bahwa Indonesia melihat ancaman dengan kacamata strategis dan modern, bukan emosional,” tutupnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar