Polemik ini juga menyorot peran Universitas Gadjah Mada sebagai institusi pendidikan tempat Jokowi menempuh studi. Beathor mempertanyakan sikap kampus yang dinilai terlalu membela mantan mahasiswanya dan menganggap reputasi akademik UGM tergadaikan akibat permainan politik ini.
Menurutnya, lembaga pendidikan tinggi seharusnya menjadi penerang dan menjaga netralitas akademik, bukan terlibat dalam dinamika politik praktis yang dapat merusak kredibilitas institusi.
Respons Terhadap Sikap Internal PDIP
Sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Beathor menyayangkan sikap kader partai di DPR yang dinilainya tidak menindaklanjuti permintaan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Dua kali permintaan Megawati untuk menampilkan ijazah disebutnya tidak mendapatkan respons memadai dari kader partai di parlemen.
Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi sikap internal partai dan kepatuhan kader terhadap arahan pimpinan partai dalam menyikapi isu strategis nasional.
Seruan Kepada Publik dan Civitas Akademika
Dalam penutup pernyataannya, Beathor mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan civitas akademika UGM, untuk bersikap kritis terhadap isu transparansi kepemimpinan nasional. Seruan ini disampaikan dalam konteks menjaga integritas penyelenggaraan negara dan pendidikan tinggi di Indonesia.
Pernyataan politikus senior ini muncul bersamaan dengan gagalnya wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, yang menurut pengamat politik ditolak oleh berbagai kalangan masyarakat.
Artikel Terkait
Heboh Video Bocil Block Blast: Penasaran yang Dijebak Phishing
Paris Membeku dalam Riang: Salju Ubah Kota Cahaya Jadi Arena Bermain
Status Darurat Sampah Tangsel Diperpanjang Dua Pekan Lagi
Bareskrim Ungkap 21 Situs Judi Online Berkedok Perusahaan Fiktif, Uang Sitaan Tembus Rp59 Miliar