Harmoni Akal dan Iman: Relevansi Pemikiran Al-Ghazali vs Ibn Rusyd di Era Digital

- Selasa, 18 November 2025 | 06:06 WIB
Harmoni Akal dan Iman: Relevansi Pemikiran Al-Ghazali vs Ibn Rusyd di Era Digital

Relevansi untuk Umat Islam di Era Digital

Seribu tahun kemudian, dunia Islam justru terjebak dalam polarisasi ekstrem antara akal dan iman. Di satu sisi, muncul kecurigaan berlebihan terhadap ilmu pengetahuan dan logika. Di sisi lain, berkembang paham rasionalisme yang mengabaikan dimensi spiritual.

Dialog Al-Ghazali dan Ibn Rusyd menawarkan solusi: Islam adalah agama yang menghargai akal sehat dan hati yang bersih secara simultan. Keyakinan tanpa landasan rasional berpotensi melahirkan fanatisme, sementara rasionalitas tanpa iman dapat menjerumuskan pada kesombongan intelektual.

Menemukan Kembali Keseimbangan

Al-Qur'an secara tegas mendorong manusia untuk menggunakan akalnya. Dalam Surat An-Nahl ayat 44, Allah berfirman: "Dan Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu, melainkan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir."

Ayat ini menjadi fondasi penting bagi Ibn Rusyd dalam membangun argumennya. Baginya, berpikir adalah bagian integral dari ibadah, sementara Al-Ghazali mengingatkan bahwa akal memerlukan bimbingan wahyu untuk sampai pada kebenaran sejati.

Warisan Abadi untuk Generasi Modern

Dunia Islam kontemporer membutuhkan sintesis baru antara spiritualitas Al-Ghazali dan rasionalitas Ibn Rusyd. Kita memerlukan generasi yang berani bertanya tanpa kehilangan iman, dan beriman tanpa takut berpikir kritis.

Ibn Rusyd mengingatkan: "Siapa yang mengenal Allah dengan akalnya, maka ia mengenal-Nya dengan iman yang lebih kokoh." Sementara Al-Ghazali menegaskan: "Akal adalah anugerah, tapi ia harus berjalan di bawah cahaya wahyu."

Kedua tokoh ini tidak sedang bertarung, melainkan berdialog dalam keabadian - mengajarkan bahwa kebenaran sejati lahir dari pertemuan harmonis antara akal dan iman.


Halaman:

Komentar