Banjarnegara dan Cilacap: Wilayah dengan Risiko Longsor Tertinggi di Jawa Tengah
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap fakta mengejutkan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Kabupaten Banjarnegara dan Cilacap tercatat sebagai daerah dengan jumlah korban tanah longsor terbanyak di Provinsi Jawa Tengah.
Kejadian terbaru melanda Cilacap pada hari Jumat lalu. Dari 23 warga yang dilaporkan hilang, 16 orang dinyatakan meninggal dunia. Proses pencarian terhadap 7 korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim gabungan.
Tidak berselang lama, bencana serupa juga terjadi di Banjarnegara pada hari Minggu. Laporan terakhir menyebutkan tiga korban jiwa telah ditemukan, sementara 27 warga lainnya masih dalam pencarian.
Pola dan Sejarah Kerentanan Longsor di Jawa Tengah
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa peta historis kejadian longsor di Jawa Tengah memiliki pola yang konsisten. Wilayah tengah hingga selatan provinsi ini merupakan zona rawan bencana geologi ini.
Muhari menekankan bahwa tingkat kerawanan suatu wilayah tidak akan berubah tanpa adanya upaya perbaikan lingkungan yang serius. "Area yang secara historis pernah mengalami longsor memiliki potensi tinggi untuk mengalaminya kembali, seperti yang kita saksikan saat ini," ujarnya dalam sebuah jumpa pers virtual.
Data Korban Longsor Periode 2015-2024
Analisis data BNPB dari tahun 2015 hingga 2024 menempatkan Banjarnegara di posisi pertama sebagai daerah dengan korban jiwa dan pengungsi terbanyak akibat tanah longsor. Selama periode tersebut, tercatat 13.351 warga harus mengungsi dan 330 orang kehilangan nyawa.
Peringkat kedua diduduki oleh Kabupaten Cilacap dengan 9.547 warga mengungsi dan 276 korban meninggal. Daerah dengan tingkat kerentanan tinggi lainnya meliputi Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga.
Faktor Penyebab Tanah Longsor di Jawa Tengah
Abdul Muhari memaparkan penyebab utama seringnya terjadi bencana longsor di kawasan ini. Wilayah perbukitan dengan struktur tanah gembur dan tingkat porositas tinggi menjadi faktor kunci. Kondisi tanah seperti ini sangat rentan bergerak ketika menerima curah hujan dengan durasi lama.
"Air hujan yang turun secara terus-menerus akan mengisi rekahan tanah. Proses inilah yang kemudian memicu terbentuknya bidang luncur dan akhirnya menyebabkan tanah bergerak," jelasnya.
Artikel Terkait
Tiga Buronan KKB Yahukimo Dibawa ke Jayapura untuk Proses Hukum
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India
OSO Ungkap Kedekatan dengan Mahfud MD Berawal dari Persahabatan Lama dan Kesamaan Visi
DPR Desak Kapolri Bertindak Tegas Usai Rentetan Kasus Oknum Polisi