MURIANETWORK.COM - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengingatkan masyarakat, khususnya orang tua, untuk mengawasi aktivitas anak muda selama Ramadan. Permintaan ini disampaikan menyusul tren kumpul-kumpul yang kerap berujung tawuran, terutama di waktu menjelang buka puasa, sahur, atau usai salat tarawih. Dalam pidatonya di Majalengka, Jawa Barat, Senin (23/2/2026), Kapolri menekankan pentingnya menjaga kesucian bulan Ramadan dengan menghindari tindakan negatif.
Imbauan untuk Orang Tua dan Masyarakat
Kapolri secara khusus menyoroti fenomena yang dianggapnya kontraproduktif di bulan suci. Dia meminta agar imbauan untuk menjaga anak-anak disampaikan secara berkelanjutan, termasuk dalam kegiatan keagamaan seperti salat tarawih berjamaah. Tujuannya jelas: mencegah generasi muda terjerumus dalam kekerasan yang merusak nilai-nilai Ramadan.
“Kalau saya lihat menjelang buka dan menjelang sahur ya atau paska sahur itu yang tradisi yang namanya kumpul-kumpul antar anak muda kemudian naik motor kemudian tawuran itu malah menjadi tren. Nah, ini yang tolong nanti diingatkan pada saat kita melaksanakan kegiatan, pada saat salat tarawih. Diingatkan kepada anak-anak kita bahwa ini adalah bulan Ramadan, bulan suci, bulan yang penuh berkah. Tolong hindari hal-hal seperti itu,” ucap Kapolri dalam kesempatan tersebut.
Peran Organisasi Masyarakat sebagai Peredam
Lebih dari sekadar imbauan, Kapolri juga mengajak seluruh elemen, termasuk organisasi kemasyarakatan seperti Persatuan Ummat Islam (PUI), untuk aktif menciptakan kedamaian. Dia menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam meredam potensi konflik dan provokasi, menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat ketertiban.
“Kalau ada yang memprovokasi, ingatkan mereka bahwa saat ini kita ada di bulan Ramadan. Sehingga harapan saya seluruh keluarga besar PUI betul-betul bisa menjadi cooling system,” tegasnya.
Pergeseran Paradigma dalam Menangani Demonstrasi
Di bagian lain pidatonya, Kapolri juga menyentuh persoalan penyampaian aspirasi masyarakat melalui demonstrasi. Dengan menyebut beberapa peristiwa masa lalu seperti “Agustus kelabu” dan “Black September”, dia mengakui bahwa aksi unjuk rasa merupakan bentuk koreksi yang mungkin terjadi kembali di masa mendatang. Menyikapi hal ini, institusi yang dipimpinnya diklaim telah melakukan perubahan pendekatan secara mendasar.
“Karena kita juga menyadari bahwa masyarakat yang melaksanakan aksi demo adalah keluarga besar kita sehingga kemudian kita juga merubah paradigma yang tadinya menjaga kita ubah menjadi melayani dan dan kita melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih preventif dialog,” jelas Kapolri.
Pernyataan ini menegaskan komitmen untuk lebih mengedepankan dialog dan pelayanan, alih-alih sekadar pengawalan ketat. Perubahan paradigma tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang aspirasi yang lebih kondusif dan mencegah eskalasi yang tidak diinginkan, baik di bulan Ramadan maupun di waktu-waktu lainnya.
Artikel Terkait
U.S. Commercial Service Buka Pendaftaran Kompetisi Pitching untuk Startup Indonesia ke Pasar AS
Iran Ancam Balas Setiap Serangan AS, Bahkan yang Terbatas
Satgas Jateng Pantau Harga Sembako di Pasar Tradisional Jelang Idul Fitri
Analis: Kebijakan AS dan Ambisi Israel Perbesar Potensi Konflik Langsung dengan Iran