Pondok Pesantren Juga Merasakan Dampaknya
Dampak pencemaran udara ini juga dirasakan oleh Pondok Pesantren Fathul Baari Indonesia. Pengurus ponpes, Sodik Gunawan, melaporkan bahwa seluruh peralatan dan area pondok tertutup debu hitam. Meski belum ada santri yang mengalami sesak napas, banyak yang menderita batuk dan pilek, menambah daftar kekhawatiran akan kesehatan para penghuni.
Tanggapan dan Langkah Pemerintah Kota Bekasi
Menanggapi keluhan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi telah melakukan pengujian emisi udara. Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menjelaskan bahwa pengujian dilakukan selama 24 jam di tiga titik lokasi sesuai laporan warga. Hasil pengujian laboratorium diperkirakan akan keluar dalam waktu 14 hari sesuai prosedur operasional standar.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Bekasi, Arif Rahman Hakim, turun langsung ke lokasi. Ia menyoroti lemahnya penindakan terhadap perusahaan yang diduga menjadi sumber pencemaran, meski perusahaan tersebut telah beberapa kali dilaporkan terkait masalah limbah dan udara.
Hingga berita ini diturunkan, warga Kaliabang masih menunggu tindakan nyata dan solusi konkret dari pihak berwenang untuk mengatasi krisis debu hitam yang telah mengganggu ketenangan dan kesehatan hidup mereka.
Artikel Terkait
Politikus Gerindra Terseret Pusaran Korupsi BBM Navigasi Pontianak
Di Stasiun Tua, Sejarah Terukir: Mamdani Memimpin New York dengan Al-Quran dan Janji Keadilan Sosial
KPK Peringatkan Wacana Pilkada Lewat DPRD: Buka Keran Korupsi Sistematis
Negara dalam Jerat Rente: Ketika Kekuasaan dan Modal Menggerogoti Amanah Lingkungan