Tantangan terakhir terjadi pada tahun 1962, ketika sang imam digulingkan dan dipaksa mengasingkan diri. Sebuah rezim militer, Republik Arab Yaman, didirikan untuk menggantikan imamah dan mendapat perlawanan sengit dari para pendukung Zaidy selama sisa dekade tersebut.
Meskipun berhasil mencapai kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan, rezim ini tetap berhati-hati dalam memberdayakan para elit Zaydi. Sebuah kebijakan yang pada gilirannya meminggirkan komunitas Zaydi secara lebih luas.
Sementara itu, pemerintah Pan-Arab berusaha mempercepat penyelarasan sekte Zaydi dengan tren modern dalam penafsiran Sunni.
Celah politik dalam penyatuan Yaman
Tahun 1990, terjadi penyatuan Republik Arab Yaman dan Republik Demokratik Rakyat Yaman di bagian selatan. Penyatuan ini memberikan celah politik bagi kebangkitan Zaydi. Para elit Zaydi kemudian mendirikan sebuah partai bernama Al Haqq. Tujuan utama partai ini adalah mewakili kepentingan komunitas Zaydi dan menolak masuknya ide Wahhabi ke dalam negara.
Baca Juga: Geger! Teuku Ryan dan Ria Ricis Kepergok Ungkap Rumah Tangganya, Warganet: Kaget Ricis Komen Begitu
Partai Al Haqq juga menentang keras Partai Islah yang lebih kuat, yang merupakan partai di bawah pengaruh Wahabi. Tahun 1997, Partai Haqq menerima jabatan menteri untuk urusan wakaf keagamaan ketika terjadi konflik politik antara Presiden Ali Abdullah Saleh dengan Partai Islah.
Keluar dari Parlemen dan membentuk jaringan pemuda
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: bicaraberita.com
Artikel Terkait
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global
Iran Siagakan 400 Unit Tempur, Waspadai Serangan AS-Israel di Tengah Gejolak Dalam Negeri
Kapal Tanker Rusia Disita AS, Moskow Balas dengan Kapal Perang