Pangeran Saudi di Washington: Peringatan Diam-diam Soal Ancaman Iran yang Makin Menguat

- Minggu, 01 Februari 2026 | 19:25 WIB
Pangeran Saudi di Washington: Peringatan Diam-diam Soal Ancaman Iran yang Makin Menguat

Strategi 'Hedging' Saudi

Lalu, bagaimana membaca langkah Saudi yang kelihatan mendua ini? Dina Sulaeman, pakar Hubungan Internasional dari Unpad, punya analisis menarik. Menurutnya, Riyadh lagi main aman. "Istilahnya 'strategi hedging'," katanya saat dihubungi Ahad lalu.

Dia bilang, sikap ini enggak lepas dari pertimbangan stabilitas kawasan Teluk. Konflik terbuka AS-Iran berpotensi mengguncang keamanan regional dan bikin ekonomi domestik Saudi kacau. Makanya, di ruang publik, Saudi serukan solidaritas Muslim, dorong diplomasi, dan tolak penggunaan wilayahnya untuk serangan.

"Namun di saat yang sama," tegas Dina, "Saudi tetap memandang Iran sebagai rival struktural yang harus ditekan." Kekhawatiran lama bahwa Iran adalah ancaman bagi Saudi masih membayangi elite di Riyadh. Mereka khawatir Iran yang kuat akan menggerus posisi Saudi dalam persaingan regional jangka panjang.

Iran: Negara yang Tak Gampang Digoyang

Sementara itu, pakar lain dari Unpad, Teuku Rezasyah, memaparkan alasan mengapa Iran sulit dihancurkan. "Iran tidak mudah digoyahkan apalagi dihancurkan," kata Reza dalam sebuah webinar Sabtu lalu.

Pertama, Iran adalah pusat peradaban awal. Kesadaran historis ini bikin semangat menjaga marwah bangsa sangat kuat, baik di pemerintah maupun masyarakat. Kedua, kepemimpinan Iran relatif dihormati dan dicintai rakyatnya. Ketiga, mereka punya kekuatan militer mandiri dengan teknologi pertahanan dalam negeri.

"Peluru kendali telah disiapkan untuk berbagai jarak termasuk untuk hadapi kapal induk di Timur Tengah," ujarnya.

Keempat, jika diserang, Iran sangat mungkin blokade Selat Hormuz. Dampaknya bakal besar buat lalu lintas energi global. Kelima, negara-negara Teluk sudah waspada banget dengan kemungkinan pembalasan Iran berupa misil dalam jumlah besar. Pengalaman konflik sebelumnya menunjukkan kota-kota besar bisa rusak signifikan.

"Saat ini, Iran disebut punya stok peluru kendali dalam jumlah sangat besar," tambah Reza.

Alasan keenam, NATO enggan mendukung serangan langsung. Mereka sudah belajar dari pengalaman. Terakhir, kemampuan intelijen Iran sangat kuat dalam mendeteksi dan menindak jaringan lawan. Ketegasan mereka menghukum agen asing jadi faktor pencegah yang signifikan.

Jadi, menurut Reza, kemungkinan besar AS cuma akan lakukan serangan kecil sebelum 11 Februari. Lalu, setelahnya, mereka akan menyatakan diri sebagai pemenang. Sekadar untuk menjaga citra di panggung internasional.


Halaman:

Komentar