Ancaman balasan keras dari Iran menggema menyusul ketegangan terbaru dengan Amerika Serikat. Intinya jelas: jika AS nekat menyerang, maka jantung Tel Aviv dan target sensitif Israel lainnya akan jadi sasaran. Begitu kira-kira peringatan yang dilontarkan pejabat tinggi Iran. Mereka menjanjikan pembalasan yang, dalam kata-kata mereka, "belum pernah terjadi sebelumnya."
Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, tak main-main. Lewat unggahan di platform X yang dia terbitkan dalam dua bahasa, Persia dan Ibrani, dia menegaskan bahwa ilusi AS soal serangan terbatas itu berbahaya.
Begitu bunyi pernyataan Shamkhani.
Di sisi lain, meski nada ancaman militer begitu kencang, Iran rupanya masih membuka pintu diplomasi. Menteri Luar Negeri mereka, Abbas Araghchi, menyampaikan hal yang mirip tapi dengan sedikit nuansa berbeda. Dia menegaskan kesiapan tempur pasukannya, namun di saat bersamaan tak menutup kemungkinan untuk kembali ke meja perundingan soal program nuklir.
tulis Araghchi, juga di X.
Tapi kemudian dia menambahkan,
Semua ini tak lepas dari provokasi yang datang dari Washington. Presiden AS Donald Trump, lewat akun Truth Social-nya, mengancam akan melancarkan serangan yang "jauh lebih buruk" dibanding serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Dia mengklaim "armada besar" sedang mendekati wilayah Iran.
Artikel Terkait
Ledakan di Teheran Bukan Serangan, Tapi Ketegangan AS-Iran Makin Menderu
Latihan Tembak Iran dan Manuver AS: Selat Hormuz Kembali Jadi Ajang Adu Kekuatan
Kedatangan Jenderal AS di Tel Aviv Peruncing Ketegangan dengan Iran
Trump Buka Rahasia The Discombobulator, Senjata AS yang Lumpuhkan Venezuela