Tangis dan Harap di Depan Pos DVI: Keluarga Korban Kebakaran Kemayoran Menanti Kepulangan

- Rabu, 10 Desember 2025 | 08:12 WIB
Tangis dan Harap di Depan Pos DVI: Keluarga Korban Kebakaran Kemayoran Menanti Kepulangan

Asap sudah sirna, tapi duka masih pekat. Kebakaran hebat yang melalap gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa kemarin, ternyata memakan korban yang tak sedikit: 22 nyawa melayang. Kini, proses yang menyakitkan bagi keluarga dimulai. Di Pos DVI RS Polri, Kramat Jati, suasana pagi Rabu (10/12) terasa berat dan sendu.

Sejak pukul tujuh pagi, puluhan orang keluarga, kerabat, sahabat sudah memadati posko darurat di depan gedung. Mereka menunggu. Menunggu panggilan, menunggu kepastian, menunggu kejelasan tentang orang yang mereka cintai. Ada yang duduk diam, ada yang berbisik pelan. Momen-momen haru pun tak terelakkan, terjadi begitu saja di antara kerumunan.

Beberapa keluarga saling berpelukan erat, berusaha saling menguatkan di tengah musibah yang datang tiba-tiba ini. Wajah-wajah lelah dan mata sembab terlihat jelas, bekas dari luapan kesedihan yang tak terbendung semalaman.

Seorang pria, kekasih dari korban bernama Candra, tampak tak kuasa menahan diri. Tangisnya pecah di depan Pos DVI. Ia hampir terjatuh, sebelum seorang ibu di sampingnya segera merangkul dan berusaha menenangkannya.

Di sisi lain, tangis pilu juga datang dari Endang, 69 tahun. Ia duduk sendiri di depan lobi, tatapannya kosong menatap langit. Dia adalah ayah dari Ervina, salah satu korban.

Sebelumnya, Endang sempat bercerita tentang harapannya yang sederhana sekaligus mendesak. Ia ingin putrinya segera bisa dibawa pulang.

“(Harapannya) Segera anak saya bawa pulang. Kita kan muslim, kan kita gak bisa lama-lama kalo bisa kan,” ucap Endang.
“Aturan di agama kita kan tidak boleh diinepin kalo bisa kan gitu kan. Kalo saya sesegera mungkin anak saya pulang. Kita urus selesai. Nah nanti dari perusahaan kita lihat aja sih,” tambahnya, dengan suara parau.

Harapan itu menggantung, sama seperti perasaan puluhan keluarga lain di sana. Mereka hanya bisa pasrah, berdoa, dan terus menunggu di bawah terik matahari yang seakan tak peduli.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar