Wall Street Lesu di Awal Pekan, Investor Waspadai Negosiasi AS-Iran hingga Keputusan Suku Bunga The Fed

- Selasa, 28 April 2026 | 05:35 WIB
Wall Street Lesu di Awal Pekan, Investor Waspadai Negosiasi AS-Iran hingga Keputusan Suku Bunga The Fed

IDXChannel – Wall Street memulai pekan ini dengan nada yang agak lesu, Senin (27/4/2026). Suasananya memang lagi tidak menentu. Investor sepertinya sedang menarik napas panjang, bersiap menghadapi serangkaian peristiwa besar yang bakal membanjiri kalender perdagangan.

Salah satu yang paling bikin deg-degan ya soal negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi di Selat Hormuz nyaris macet total, dan itu bikin pasar waswas. Belum lagi, investor juga harus mencerna banjir laporan keuangan perusahaan, keputusan suku bunga bank sentral, dan sederet data ekonomi penting yang akan dirilis.

Nah, berikut lima sentimen utama yang layak dicermati pelaku pasar pada pekan ini:

Pembicaraan Iran Terhenti

Para analis memperkirakan berita soal negosiasi AS-Iran masih akan terus menghiasi headline. Indikasi terbaru menunjukkan bahwa dialog kedua negara sudah mentok di jalan buntu. Akhir pekan lalu, Presiden Trump malah membatalkan rencana mengirim negosiatornya ke Pakistan untuk perundingan baru. Itu terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran terbang ke Islamabad, tapi hanya singgah sebentar.

Trump, dengan gayanya yang khas, menegaskan bahwa ia akan menunggu sampai Teheran yang menghubunginya duluan. Alasannya, ia merasa AS masih punya pengaruh lebih besar dalam diskusi tersebut.

Yang menarik perhatian pasar pada Senin adalah laporan dari Axios. Katanya, Iran diam-diam mengajukan proposal baru ke AS. Isinya? Mereka bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Tapi ada catatan penting: pembicaraan soal ambisi nuklir Teheran harus dipindahkan ke tahap selanjutnya.

Meskipun kabar ini sempat meredam lonjakan harga minyak, harga minyak mentah masih bertengger jauh di atas level sebelum perang. Penyebab utamanya ya karena selat itu masih ditutup. Jalur air sempit di lepas pantai selatan Iran ini memang jadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dunia. Banyak ahli sudah memperingatkan, kalau gangguan aliran lewat daerah ini berlangsung berminggu-minggu, dampaknya bisa sangat buruk bagi ekonomi global.

Perusahaan Hyperscaler Rilis Laporan Keuangan

Di luar urusan geopolitik, para trader juga akan disibukkan dengan musim laporan keuangan. Pekan ini jadwalnya padat banget. Dimulai dari grup telekomunikasi Verizon yang laporan sebelum pasar buka pada Senin. Total, sekitar 35 persen perusahaan dalam indeks S&P 500 bakal mengumumkan hasil keuangan mereka dalam sepekan ke depan.

“Saham bukan cuma soal geopolitik, lho. Musim pelaporan kuartal pertama sejauh ini solid. S&P siap mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit untuk kuartal keenam berturut-turut. Antusiasme terhadap sektor teknologi juga bangkit lagi secara signifikan,” ujar Michael Brown, Strategis Riset Senior di Pepperstone, dalam sebuah catatan.

Optimisme di bidang teknologi bakal jadi sorotan utama. Apalagi, laporan keuangan dari sejumlah perusahaan mega-kapitalisasi akan segera dirilis. Perusahaan-perusahaan ini sudah menggelontorkan dana besar untuk membangun kemampuan kecerdasan buatan (AI) mereka. Yang dimaksud antara lain Alphabet (induk Google), Microsoft, dan Meta (induk Instagram).

Keputusan The Fed

Bersamaan dengan banjir laporan pendapatan, investor juga harus meluangkan waktu untuk mencermati keputusan suku bunga bank sentral. Rangkaian pengumuman ini bisa memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana para pembuat kebijakan memperkirakan kinerja ekonomi utama, terutama dengan dampak perang Iran yang kian terasa.

Salah satu yang paling ditunggu ya Federal Reserve (The Fed). Sebagian besar pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS ini akan mempertahankan biaya pinjaman pada akhir pertemuan dua hari, Rabu nanti.

Ekspektasi bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga sudah mereda sejak perang Iran pecah pada akhir Februari. Guncangan energi yang terjadi kemudian mengancam memicu tekanan inflasi di berbagai negara.

Namun begitu, beberapa analis punya pandangan berbeda. Mereka bilang, sementara bank sentral lain mungkin sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga justru bisa memberikan dukungan bagi aset AS.

Topik lain yang juga menarik adalah masa depan Ketua Fed Jerome Powell. Ia akan mundur dari pucuk pimpinan bank sentral pada Mei, tapi belum memberi tanda apakah ia akan meninggalkan komite penetapan suku bunga Fed. Sementara itu, pilihan Trump untuk menggantikan Powell, mantan Gubernur Fed Kevin Warsh, belum juga dikonfirmasi. Hambatan utama mungkin sudah dihilangkan pekan lalu, saat Departemen Kehakiman mengatakan akan menutup penyelidikan terhadap Powell terkait biaya renovasi kantor pusat The Fed.

Pengumuman ECB, BOE, BOJ

Selain The Fed, masih ada lagi bank sentral lain yang akan mengumumkan kebijakannya. Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan juga akan merilis keputusan mereka.

Menurut Reuters, ECB diperkirakan akan mempertahankan suku bunga deposito pada 30 April. Tapi, mereka kemungkinan akan menaikkan biaya pinjaman pada Juni sebagai upaya mengendalikan tekanan inflasi akibat perang.

Sementara itu, BOE diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga pada Kamis. Para pembuat kebijakan di sana masih mencoba mengukur seberapa besar inflasi dan pertumbuhan akan terpengaruh konflik. Namun, menurut prediksi beberapa investor, kenaikan suku bunga mungkin baru akan terjadi akhir tahun ini.

Di Asia, BOJ secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada akhir pertemuan 28 April. Meskipun begitu, bank sentral bisa saja mengambil langkah agresif dalam menghadapi tekanan inflasi yang meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi.

Fokus pada PDB AS Kuartal Pertama

Salah satu indikator paling penting yang akan dirilis adalah pembacaan pertama pertumbuhan ekonomi AS pada periode Januari hingga Maret. Ekonomi terbesar di dunia ini diproyeksikan tumbuh sebesar 2,2 persen pada kuartal pertama. Angka ini naik dari 0,5 persen pada tiga bulan terakhir 2025.

Tapi, seperti yang dicatat Brown dari Pepperstone, angka tersebut akan "ditingkatkan secara artifisial" karena berakhirnya efek penutupan pemerintah yang berlangsung sangat lama selama kuartal keempat.

Selain itu, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi pada Maret juga akan segera dirilis. Ini adalah salah satu metrik inflasi yang jadi favorit The Fed.

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar