Lahan Industri Menyusut, Deltamas Siapkan 60 Bisnis Baru untuk Perkuat Pendapatan Berulang

- Jumat, 12 Juni 2026 | 08:20 WIB
Lahan Industri Menyusut, Deltamas Siapkan 60 Bisnis Baru untuk Perkuat Pendapatan Berulang

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) bersiap menambah hingga 60 jenis kegiatan usaha baru guna memperkuat porsi pendapatan berulang di tengah cadangan lahan yang kian terbatas di kawasan Deltamas. Langkah ini merupakan respons strategis perseroan terhadap kondisi landbank yang terus menyusut, khususnya untuk lahan industri.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Deltamas, Tondy Suwanto, dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (12/6/2026), menyatakan bahwa penambahan kegiatan usaha ini akan mengoptimalkan operasional perseroan. “Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan profitabilitas serta menjaga kegiatan operasional yang berkesinambungan di masa mendatang,” ujarnya.

Seluruh kegiatan usaha baru yang direncanakan masih berkaitan erat dengan fondasi bisnis Deltamas sebagai pengembang kawasan industri terpadu. Selama ini, perseroan mengandalkan penjualan lahan, terutama sektor industri. Ke depan, diversifikasi ke segmen hunian, komersial, hingga penguatan recurring income menjadi prioritas.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, luas tanah yang sedang dan belum dikembangkan mencapai sekitar 722 hektare. Namun, dari angka tersebut, lahan industri tersisa kurang dari 150 hektare, sementara sisanya diperuntukkan bagi kawasan komersial dan residensial.

Perseroan telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan kawasan kota terpadu Kota Deltamas dan kawasan industri GIIC. Dengan demikian, penambahan KBLI yang baru tetap sejalan dengan kompetensi inti yang dimiliki perusahaan.

Beberapa kegiatan usaha baru yang akan digarap meliputi pengelolaan fasilitas gelanggang dan olahraga, aktivitas hotel, penyediaan makanan, pengolahan air minum dan limbah, konstruksi jalan, flyover, utilitas, dan bangunan sipil, transportasi dasar, jasa periklanan, kebersihan, sertifikasi, inspeksi, verifikasi, pengujian, serta jasa telekomunikasi.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh JPP Guntur, Kei, Andri, dan Rekan, rencana penambahan KBLI ini dinyatakan layak dengan potensi Net Present Value (NPV) sebesar Rp1,97 triliun. Di sisi lain, perseroan tidak perlu mengeluarkan belanja modal untuk ekspansi usaha ini. Ketiadaan belanja investasi tersebut membuat perhitungan Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index, dan Payback Period tidak digunakan dalam analisis.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar