Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) sekaligus mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD, menanggapi sindiran warganet yang menyebutnya banyak cerita setelah menjabat dan banyak diam saat menjabat. Menurut Mahfud, anggapan itu muncul karena generasi muda tidak mengetahui apa yang dilakukannya selama memegang jabatan publik.
Dalam sebuah podcast di YouTube Leon Hartono, Rabu (29/07/2026), Mahfud mengaku pernah membabat praktik korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum saat menjadi Ketua MK. Ia mencontohkan kasus yang dikenal dengan nama Cicak vs Buaya, ketika ia memutar rekaman yang mengungkap rencana kriminalisasi terhadap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Rianto dan Candra Hamzah.
"Saya cerita, waktu saya Ketua MK saya babat itu permainan korupsi saling mengkriminalisasi yang dilakukan polisi, kejaksaan, pengacara, LPSK itu bekerja sama untuk menghukum orang yang tidak salah, saya tabrak waktu itu," kata Mahfud.
Ia menuturkan, saat itu publik sudah putus asa karena Bibit dan Candra dikriminalisasi dan akan diadili. Padahal, bukti yang diajukan tidak kuat. "Saya setel, itu yang bikin heboh," ujarnya. Dampaknya, puluhan ribu orang turun ke Bundaran HI untuk menjemput Bibit-Candra dari Mabes Polri.
Selain itu, Mahfud juga mengenang kebijakannya yang memperbolehkan penggunaan KTP dan paspor untuk pemilu. Sebelumnya, masyarakat yang tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak bisa mencoblos. Kebijakan ini lahir setelah ada permohonan dari Refly Harun, dan Mahfud memutuskan menerima gugatan tersebut hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara.
"Sore jam 4 diputus boleh pakai paspor, boleh pakai KPT, aman, itu yang kemudian dipakai," katanya. Ia juga mengklaim membatalkan hasil pemilihan bupati dan gubernur yang bermasalah, serta memerintahkan pemilihan ulang.
Mahfud menegaskan, ketika menjabat ia selalu berusaha mengerjakan semua yang bisa dikerjakan sesuai kewenangan. Saat menjadi Menkopolhukam, ia membongkar kasus pembunuhan Brigadir J (Sambo) dan temuan uang Rp 349 triliun di Kementerian Keuangan, serta mengembalikan uang pengemplang BLBI.
Menanggapi pertanyaan tentang Indonesia yang tidak kunjung baik setelah dirinya menjabat, Mahfud membandingkan dengan Bung Karno. "Apakah sesudah Bung Karno jadi Presiden, Indonesia baik? Tidak. Tapi, orang tetap menganggap Bung Karno tuh orang baik, karena dia dirinya sendiri dan ketegasannya sesuai kemampuan," ujarnya. Ia juga mencontohkan Marie Muhammad yang dikenal bersih, tetapi korupsi di Kementerian Keuangan tidak hilang.
Bagi Mahfud, yang terpenting adalah bekerja sungguh-sungguh dan menghantam sebatas kemampuan. Ia juga menyinggung bahwa selama puluhan tahun ada Menkopolhukam, tidak pernah ada yang membongkar kasus seperti yang dilakukannya. "Dulu koar-koar juga, kalau Anda buka berita-berita saat itu di TV, Metro TV, Kompas, kan saya perang terus," katanya, seraya menambahkan bahwa generasi muda mungkin tidak menonton TV saat itu.
Artikel Terkait
Mahfud MD: Pesantren Garda Terdepan Selamatkan Moral Bangsa
Pegawai KPK Tersangka Pemerasan Bupati Pemalang, Bocorkan Informasi Penyelidikan
KPK Tetapkan Empat Tersangka dalam OTT Bupati Pemalang, Termasuk Oknum Staf Internal
KPK Sita Barang Bukti Rp2,7 Miliar dari OTT Bupati Pemalang