Dalam sebuah wawancara yang cukup mengejutkan, mantan Presiden Donald Trump mengungkapkan detail operasi militer AS yang sebelumnya terselubung. Menurutnya, sebuah senjata rahasia yang dijuluki "The Discombobulator" berperan kunci saat pasukan khusus Delta Force bergerak untuk menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di Caracas awal Januari lalu.
"The Discombobulator. Saya tidak diizinkan untuk membicarakannya," ujar Trump kepada The New York Post.
Dia mengaku senjata itulah yang membuat alat tempur Venezuela lumpuh total. Roket-roket buatan Rusia dan China yang mereka miliki, kata Trump, sama sekali tak bisa diluncurkan.
"Mereka sudah siap untuk kami. Tapi kami datang, mereka menekan tombol dan tidak ada yang berfungsi," paparnya.
Sebelumnya, Trump pernah menyebut soal AS mematikan "hampir semua lampu di Caracas" saat operasi itu berlangsung. Hanya saja, waktu itu dia tak merinci caranya. Kini, sepertinya dia memberikan petunjuk lebih jelas.
Di sisi lain, ancaman Trump tak berhenti di Venezuela. Dia kembali menyuarakan rencana serangan militer darat terhadap kartel narkoba, yang wilayah operasinya bisa mencakup Meksiko. "Bisa di mana saja," tegasnya ketika ditanya tentang kemungkinan serangan di Amerika Tengah atau Meksiko.
Trump terlihat sangat percaya diri. "Kami tahu rute mereka. Kami tahu segalanya tentang mereka, termasuk rumah mereka. Kami akan menyerang kartel-kartel itu," imbuhnya.
Ancaman itu bukan omong kosong. Buktinya, baru Jumat lalu AS menyerang sebuah kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba di perairan timur Samudra Pasifik. Itu adalah serangan pertama pasca-penculikan Maduro, dan menjadi bagian dari setidaknya 36 serangan serupa sejak September. Korban jiwa dilaporkan mencapai sedikitnya 117 orang.
Sementara soal Venezuela, Trump juga membahas nasib minyak negara itu. Dia mengonfirmasi bahwa AS telah memindahkan minyak dari tujuh kapal tanker yang disita. "Mereka tidak punya minyak. Kami ambil minyaknya," katanya singkat, menolak memberi tahu lokasi kapal-kapal tersebut sekarang.
Wawancara yang cukup luas itu juga menyentuh hal-hal lain. Trump terlihat masih bingung menentukan tempat untuk menghadiahkan Nobel Perdamaian milik pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, yang kini cuma bersandar di patung di Oval Office.
Lalu, ada pula pembicaraan soal kerangka kesepakatan keamanan Arktik dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Trump mengklaim kesepakatan itu akan memberi AS kepemilikan atas tanah tempat pangkalan mereka berada. "Kami akan mendapatkan semua yang kami inginkan. Sedang ada pembicaraan menarik," ujarnya.
Namun begitu, klaim Trump ini dibantah oleh sejumlah pihak. Pemimpin Denmark dan Greenland menegaskan kedaulatan pulau itu tidak bisa ditawar. Juru bicara NATO juga menyatakan Rutte tidak mengusulkan kompromi apa pun terkait kedaulatan dalam percakapan dengan Trump. Sejauh ini, detail kesepakatan potensial itu memang masih sangat kabur.
Artikel Terkait
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China