KPK belum berhenti menyelidiki. Kali ini, lembaga antirasuah itu masih menelusuri dengan saksama aliran dana korupsi dari kasus pengadaan iklan bank bjb. Yang menarik, aliran dana itu diduga mengarah ke orang-orang terdekat mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.
Namun begitu, fokus penyidikan ternyata tak cuma soal itu. Menurut KPK, mereka juga mendalami dugaan pelanggaran hukum dalam proses pengadaan, termasuk soal "setting" yang dianggap nonprosedural. Intinya, semua yang berbau tidak wajar dalam pengadaan barang dan jasa itu sedang dibongkar.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, memberikan penjelasan lebih lanjut pada Minggu, 4 Januari 2026.
"KPK juga menyusuri ke mana saja dana non-budgeter yang bersumber dari sisa anggaran pengadaan iklan yang tidak digunakan ini merembes," ujarnya.
"Merembesnya ini ke mana saja. Berhenti pada siapa atau apa. Apakah mengalir untuk pihak-pihak lainnya, atau juga dialihkan untuk aset, misalnya," pungkas Budi.
Ridwan Kamil sendiri sudah merasakan proses pemeriksaan KPK. Dia dihadirkan di Gedung Merah Putih selama kurang lebih enam jam, tepatnya pada Selasa, 2 Desember 2025. Tapi, jauh sebelum hari itu, tim penyidik sudah bergerak lebih dulu.
Mereka menggeledah rumah Ridwan Kamil di Senin, 10 Maret 2025. Dari sana, sejumlah barang bukti diamankan. Mulai dari dokumen dan barang elektronik, sampai ke satu unit motor Royal Enfield dan satu mobil Mercedes Benz.
Bukan cuma rumah Ridwan Kamil yang digeledah. Ada 11 lokasi lain yang juga disisir oleh tim penyidik. Hasilnya, KPK berhasil menyita bukti yang cukup mencengangkan: dokumen dan catatan penting, deposito senilai Rp70 miliar, beberapa kendaraan, serta aset tanah dan bangunan.
Sementara itu, tersangka dalam kasus ini sudah ditetapkan lebih awal. Pada Kamis, 13 Maret 2025, KPK mengumumkan lima orang yang diduga terlibat berdasarkan Surat Perintah Penyidikan tertanggal 27 Februari 2025.
Mereka adalah mantan Dirut bank bjb Yuddy Renaldi, mantan Pimpinan Divisi Corsec bank bjb Widi Hartono, serta tiga pemilik agensi: Ikin Asikin Dulmanan (Antedja Muliatama dan Cakrawala Kreasi Mandiri), Suhendrik (BSC dan Wahana Semesta Bandung Ekspres), dan Sophan Jaya Kusuma (Cipta Karya Mandiri Bersama dan Cipta Karya Sukses Bersama).
Artikel Terkait
KPK Bergerak Serentak: Jakarta dan Banjarmasin Diguncang OTT
Di Balik Penampilan Prima Jokowi, Tradisi Hukum Kuno yang Masih Membayangi
Jaringan Judi Online Berbasis Kamboja Dibongkar dari Kamar Kos Palembang
Desakan Keras: Aparat Hukum Didorong Periksa Jokowi Terkait Dua Kasus Besar