Lalu, yang mayoritas seperti apa?
Boyke punya jawaban yang mungkin bikin banyak orang mengernyit. Sebagian besar justru pria dengan tubuh atletis, rajin nge-gym, dan penampilannya sangat maskulin. Mereka ini, kata Boyke, justru banyak ditemui di pusat-pusat kebugaran.
“85 persen justru yang ke gym yang ketemuannya kayak begitu (penyuka sesama jenis),” tegasnya.
Alasannya? Boyke menyebut soal narsisme. Pria-pria yang rajin membentuk tubuhnya itu sangat mencintai fisik mereka sendiri. Karena itulah, mereka cenderung tertarik pada pasangan yang punya fisik serupa terawat, berotot, dan ideal.
“Jadi mereka narsis, mereka juga mencintai badannya yang bagus itu. Karena badannya udah bagus, dia akan mencari juga badannya yang bagus,” terangnya.
Nah, di sisi lain, Boyke melihat sebuah ironi. Sosok pria berotot dan six-pack itu justru belum tentu dikagumi banyak perempuan. Ketertarikan justru lebih banyak datang dari sesama jenis.
“Karena kalau narsis kan dikagumi sama orang-orang, badannya six pack, otot-otot bisepnya keluar. Nah yang naksir itu kan sedikit perempuan,” ujar dokter Boyke.
Penjelasannya ini, mau tak mau, membongkar stereotip yang selama ini beredar. Boyke secara tak langsung membantah anggapan bahwa kelembutan adalah penanda utama. Realitanya, kata dia, lebih beragam dan sering kali justru bertolak belakang dengan bayangan orang awam.
Artikel Terkait
Denada Digugat Rp7 Miliar, Pemuda 24 Tahun Klaim Anak Kandung yang Dituntut Pengakuan
Tessa Mariska Bocorkan Ciri-ciri Ayah Biologis Ressa, Anak Denada
Misi Penyelamatan Meisya di Mansion Suryono Berujung Kepungan
Inara Rusli Datang Diam-diam ke Komnas Anak, Apa yang Dibahas?