Di titik terendahnya, hadirlah Dimi (Dea Panendra). Sebagai sahabat, dialah tempat Vino bersandar. Dimi membantu Vino melihat kembali apa yang esensial, sekaligus mengingatkannya pada cinta tulusnya terhadap dunia film.
Nah, di sisi lain, film ini juga seperti membuka jendela. Penonton diajak melihat dinamika di balik layar: perjuangan kru, hubungan antaraktor, bahkan interaksi dengan penggemar. Semua elemen itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan penyembuhan Vino.
Menariknya, justru dari kegagalan-kegagalan Vino dalam berakting itulah, Ernest Prakasa menyelipkan komedi. Ia punya cara baru memadukan drama dan kelucuan. Keseriusan situasi justru jadi sumber humor, tapi dikemas tanpa berlebihan.
Pada akhirnya, Vino harus menjawab satu pertanyaan besar. Apa artinya menjadi seorang aktor? Apakah ia masih layak berdiri di panggung, jika ia sudah melupakan nilai-nilai yang membentuknya sejak awal?
Secara keseluruhan, 'Lupa Daratan' adalah kisah reflektif tentang ego, ketenaran, dan ikatan keluarga. Sebuah perjalanan pulang untuk mengingat kembali tanah tempat mimpi itu pertama kali ditanam. Dengan humor yang cerdas dan emosi yang tulus, film ini berhasil mengajak kita tertawa, sambil sesekali merenung dalam diam.
Artikel Terkait
Virgoun Malah Senang Dipanggil Komnas PA, Tapi Tak Hadir dengan Alasan Ini
Pembuktian Praperadilan Richard Lee Dimulai, Kuasa Hukum: Kami Punya Alat Bukti
Billy Syahputra Ungkap Alasan Rahasiakan Wajah Sang Buah Hati
Billy Syahputra: Sekarang, Pikiran Saya Hanya Satu, Cepat Pulang!