Dylan Carr dan Bayangan di Jalan Raya
Sudah enam tahun berlalu sejak kecelakaan mobil hebat itu di Tol JORR. Aktor Dylan Carr, yang fisiknya kini pulih sepenuhnya, ternyata masih berjuang melawan sesuatu yang tak kasat mata. Dampak psikologis dari insiden 2019 itu rupanya belum juga sirna, masih setia membayangi hari-harinya.
Dari segi medis, Dylan sudah dinyatakan aman. Ia bahkan mengaku sudah dua tahun ini tak lagi melakukan check-up rutin. "Kalau untuk ke dokter, ini sudah dua tahun sudah nggak pernah check-up lagi. Kata dokter sudah aman, alhamdulillah sih," ujarnya pada Selasa lalu.
Namun begitu, ada hal lain yang tak semudah itu disembuhkan. Di balik kondisi fisik yang baik, tersimpan trauma mendalam yang kerap muncul saat ia berada di jalan raya.
Suara klakson yang tiba-tiba atau situasi lalu lintas yang mencekam bisa langsung membangkitkan ketegangan. Perasaan itu datang begitu saja, membuatnya merinding.
"Kalau misalnya mental, ya masih ada trauma. PTSD. Kalau misalnya naik mobil, terus diklakson-klakson itu masih suka merinding kayak gitu," katanya menerangkan.
Trauma itu makin mengakar karena suatu alasan. Dylan pernah melihat rekaman video kecelakaannya sendiri. Menyaksikan kembali momen-momen kritis itu, kata dia, membuat ingatan buruknya semakin sulit untuk dilupakan.
"Soalnya gue ngelihat video gue pas kecelakaan. Lumayan parah," ungkapnya singkat.
Di sisi lain, Dylan bukan tipe orang yang lari dari ketakutan. Ia justru memilih untuk berhadapan langsung dengan traumanya. Caranya? Dengan tetap menyetir sendiri. Bagi Dylan, menghindar bukanlah solusi. Ia yakin, satu-satunya jalan untuk benar-benar pulih adalah dengan memberanikan diri.
"Tapi gue beraniin. Soalnya kalau nggak gue lawan, ya gimana?" ujarnya dengan nada tegas.
Keputusan untuk terus menyetir juga diambilnya demi kemandirian. Dylan merasa tidak enak jika harus terus bergantung pada sopir pribadi atau keluarganya untuk sekadar beraktivitas sehari-hari.
"Gue nggak mungkin setiap hari minta tolong sama driver gue, nganterin gue ke mana-mana, kan nggak enak juga sih. Jadi gue harus berani sendiri," pungkasnya.
Perjalanan Dylan mengajarkan satu hal: luka di tubuh bisa sembuh dengan waktu, tapi luka di ingatan punya jalannya sendiri. Butuh lebih dari sekadar keberanian medis. Butuh keteguhan hati untuk melawan bayangan di kepala. Dan Dylan, dengan caranya sendiri, terus melangkah maju meski sesekali masih merinding.
Artikel Terkait
Faith, Kris Tomahu, dan Liliana Tanoesoedibjo Rilis Lagu Rohani “Dengarkanlah Doa Kami”
Kuasa Hukum Bantah Richard Lee ke Gereja untuk Ibadah, Sebut Hanya sebagai Pembicara
Ahn Hyo Seop dan Khalid Rilis Single Kolaborasi “Something Special” pada 22 Mei 2026
PRIMARIA FEST 2026 Siap Digelar di Empat Kota, Angkat Indonesian Bounce Music ke Panggung Lebih Luas