Dua Pekan Pasca Banjir Bandang, Warga Tapanuli Tengah Masih Terjebak dalam Puing dan Penantian

- Minggu, 07 Desember 2025 | 18:20 WIB
Dua Pekan Pasca Banjir Bandang, Warga Tapanuli Tengah Masih Terjebak dalam Puing dan Penantian

Dua Minggu Berlalu, Warga Tapanuli Tengah Menanti Tangan Pemerintah

Sudah empat belas hari. Itu waktu yang terasa sangat panjang bagi warga di Tapanuli Tengah yang rumahnya porak-poranda diterjang banjir bandang. Sisa-sisa bencana masih terpampang jelas: lumpur mengeras, kayu-kayu gelondongan berserakan, dan bau anyir yang menyengat. Perjuangan mereka belum usai, sementara harapan akan bantuan yang dijanjikan seolah masih jauh dari kenyataan.

Banyak dari mereka hanya bisa pasrah, menatap pilu sisa harta benda yang tertimbun. “Kami sudah coba bersihkan sendiri, tapi ini terlalu besar,” ujar salah seorang warga, suaranya parau. Ia mengisahkan bagaimana air datang tiba-tiba di malam hari, menghanyutkan segalanya dalam sekejap.

“Kami butuh bantuan sekarang. Bukan besok, bukan lusa.”

Namun begitu, respons dari pihak berwenang dinilai masih terlalu lamban. Ada kesan bahwa situasi darurat ini belum sepenuhnya mendapat perhatian yang mendesak. Padahal, kebutuhan pokok seperti air bersih, pangan, dan tempat tinggal sementara sudah sangat kritis. Menurut sejumlah saksi, bantuan yang datang masih bersifat seadanya dan belum menyentuh semua titik terdampak.

Di sisi lain, kondisi lapangan memang cukup rumit. Akses menuju beberapa lokasi terputus, memperlambat distribusi logistik. Tapi alasan itu tak cukup menenangkan hati warga yang setiap harinya harus berjibaku dengan kondisi yang tak layak. Mereka bertahan dengan apa yang ada, sambil terus memandang jalan, berharap ada konvoi bantuan yang datang.

Nuansa keputusasaan mulai terasa. Semangat gotong royong antarwarga memang masih menyala, tapi itu saja tidak cukup. Mereka butuh dukungan nyata dan cepat dari pemerintah, sebelum masalah kesehatan dan kelaparan muncul menjadi bencana kedua. Waktu terus berjalan, dan kesabaran mereka punya batas.

Intinya, jeritan warga Tapanuli Tengah ini sederhana: mereka ingin pemerintah segera turun tangan, bukan sekadar wacana. Dua minggu adalah waktu yang terlalu lama untuk menunggu di tengah puing dan lumpur.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar