Kenapa Nggak Bilang, Pi? Tangis Karina Ranau di Depan Keranda Epy Kusnandar

- Rabu, 03 Desember 2025 | 19:50 WIB
Kenapa Nggak Bilang, Pi? Tangis Karina Ranau di Depan Keranda Epy Kusnandar

Tangis Karina Ranau Pecah di Depan Keranda Epy Kusnandar

Suasana di dalam ambulans itu terasa sesak oleh duka. Karina Ranau, yang menemani jenazah suaminya menuju rumah duka, tak lagi sanggup menahan isak. Momen pilu itu ia bagi melalui sebuah unggahan di hari Rabu (3/12) itu, memperlihatkan betapa hancurnya hati sang istri.

Di depan keranda Epy Kusnandar, suara Karina tersendat-sendat penuh rasa kehilangan.

"Kenapa nggak bilang sama bunda, pi?"

Panggilan sayangnya untuk sang suami itu meluncur, diiringi tanya yang tak akan pernah terjawab. Rupanya, mereka berdua punya sejumlah rencana yang telah disusun bersama. Sayangnya, Epy memilih pergi lebih dulu, meninggalkan semua itu.

"Kita mau punya rencana, pi," ucap Karina lirih.

Air matanya semakin deras. Di tengah tangis yang menyayat, ia pun menyampaikan permohonan maaf. "Mohon diampuni segala kesalahan dan mohon dibukakan pintu maafnya, jika ada kata-kata dari suami saya semasa hidup...," terangnya, suara nyaris tak terdengar.

Epy Kusnandar sendiri menghembuskan napas terakhir pada Rabu (3/12) siang tadi, tepatnya pukul 14.24 WIB. Aktor berusia 61 tahun itu telah berpulang, meski penyebab pastinya masih belum jelas. Sampai berita ini diturunkan, keluarga besar tampaknya masih menahan diri untuk berbicara lebih detail mengenai kepulangan sang aktor kelahiran Garut tersebut.

Namun begitu, prosesi pemakaman telah dijadwalkan. Epy akan dimakamkan keesokan harinya, Kamis (4/12), pukul 08.00 pagi. Tempat peristirahatan terakhirnya berada di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Sebelumnya, sempat beredar video yang menunjukkan Epy membahas wasiat dan pemakamannya. Sebuah percakapan yang kini terasa begitu menusuk.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar