Namun begitu, pemenang suara itu kini berstatus terdakwa. Mahrup, bersama lima orang lain termasuk mantan anggota dewan Muhammad Sidik, terbukti melanggar UU Pemberantasan Tipikor dan KUHP. Persidangan yang berlangsung sepanjang 2024-2025 itu akhirnya memaksa kursi itu kosong.
Lalu, siapakah sebenarnya Dono Kasino Indro ini?
Dia berasal dari Desa Mertak, Kecamatan Pujut. Latar belakang pendidikannya biasa saja: lulusan SMAN 2 Mataram tahun 2007. Sehari-harinya, sejak 2021, ia bekerja sebagai operator alat berat. Tapi jangan salah, pengalaman organisasinya cukup mumpuni. Dono pernah memimpin kelompok tani dan aktif di perkumpulan penyewaan alat berat di Lombok Tengah.
Beberapa sumber juga menyebutkan, ia pernah menjadi staf di Desa Mertak. Pengalaman di level pemerintahan desa inilah yang mungkin memberinya bekal untuk memahami urusan administratif dan tentu saja, kedekatan dengan persoalan warga.
Dengan latar belakangnya yang begitu akrab dengan dunia kerja keras dan urusan masyarakat desa, banyak yang berharap Dono bisa membawa angin segar. Kursi PKS yang sempat kosong itu kini terisi. Tinggal menunggu waktu, apakah ia bisa menjawab harapan dan bekerja untuk kepentingan rakyat, seperti yang diamanatkan dalam sumpah jabatannya.
Artikel Terkait
Investor Sate Man Boiyen Tuntut Rully Anggi Akbar: Transfer ke Rekening Pribadi, Janggal!
Kak Seto Berbenah: Refleksi atas Luka Lama di Bawah Sorotan
Anak yang Mengaku Denada Tuntut Rp7 Miliar, Dulu Cuma Diterima 15 Cm di Pintu
Gugatan Rp 7 Miliar Mengguncang, Denada Dituding Telantarkan Anak Sejak Lahir