30% Orang Tua Dihakimi Soal Makanan Anak: Dampak & Tips Mengatasinya

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 14:42 WIB
30% Orang Tua Dihakimi Soal Makanan Anak: Dampak & Tips Mengatasinya
Orang Tua Sering Dihakimi Soal Makanan Anak? Ini Kata Survei

Orang Tua Sering Dihakimi Soal Makanan Anak? Ini Kata Survei

Menghadapi tatapan atau komentar orang lain tentang menu makan si kecil adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. Apakah Anda, para orang tua, pernah mengalaminya?

Sebuah survei dari Talker Research bersama Serenity Kids, seperti dikutip dari The Bump, mengungkap fakta mengejutkan. Hampir 30 persen orang tua pernah merasa dihakimi oleh orang tua lain karena makanan yang mereka berikan kepada anak.

Sebagai contoh, seorang ibu dalam survei tersebut berbagi cerita. Saat ia membawa bekal makaroni dan keju untuk balitanya ke tempat penitipan anak, seorang orang tua lain memberikan komentar. "Wah, karbohidrat dan keju untuk makan siang?" ujarnya. Meski sang ibu hanya tertawa, di dalam hatinya ia merasa tersakiti. Komentar itu terasa seperti vonis bahwa ia telah gagal memenuhi standar pengasuhan yang tak terlihat, padahal itu adalah makanan yang disukai anaknya.

Dampak Besar Komentar yang Terlihat Sepele

Perasaan dihakimi ini bukanlah hal sepele. Studi yang sama menunjukkan betapa besarnya beban pikiran orang tua. Rata-rata, orang tua bisa memikirkan tentang anaknya hingga 58 kali dalam sehari. Pikiran-pikiran ini berkisar dari apa yang anak makan hingga keamanan mereka saat bermain. Jika diakumulasikan dalam setahun, terdapat lebih dari 21.000 momen kekhawatiran yang dialami orang tua.

Seringkali, tekanan terberat justru datang dari dalam diri sendiri. Sebanyak 68 persen orang tua mengakui bahwa mereka terlalu keras pada diri sendiri ketika merasa melakukan kesalahan dalam pengasuhan.

Tantangan Nyata Orang Tua dalam Memenuhi Gizi Anak

Tantangan dalam menyajikan makanan sehat bagi anak sangat nyata. Dua dari tiga orang tua mengaku bahwa waktu adalah hambatan terbesar. Sementara itu, separuh responden lainnya menyatakan bahwa menjaga pola makan seimbang menjadi semakin sulit ketika sedang bepergian. Dalam situasi seperti inilah, pilihan seringkali jatuh pada makanan yang praktis, meski mungkin tidak sempurna dari segi gizi.

Meski penuh tantangan, komitmen orang tua untuk memberikan yang terbaik tetap tinggi. Hampir semua responden, tepatnya 9 dari 10 orang tua, sepakat bahwa prioritas utama mereka adalah membangun pola makan seimbang dan hubungan positif anak dengan makanan.

Protein, sayuran, dan variasi makanan menjadi tiga hal yang paling diutamakan. Namun, realitanya, 91 persen orang tua harus berhadapan dengan anak yang picky eater atau pilih-pilih makanan.

Jennifer Beechen, Wakil Presiden Senior Pemasaran Serenity Kids, menyoroti upaya keras orang tua ini. "Sungguh menarik melihat bagaimana orang tua tetap berusaha menjaga keseimbangan, meski waktu terbatas dan anak sulit makan," katanya.

Hasil survei ini menjadi pengingat penting bagi semua orang tua. Tidak ada satu standar pengasuhan yang cocok untuk semua keluarga. Makanan terbaik untuk anak bukanlah yang paling mahal atau paling sehat di mata orang lain, melainkan yang realistis untuk disiapkan dan yang paling penting: membuat anak bahagia saat menyantapnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar