Netanyahu Ubah Kisah Pahlawan Muslim di Bondi Jadi Pahlawan Yahudi

- Selasa, 16 Desember 2025 | 05:20 WIB
Netanyahu Ubah Kisah Pahlawan Muslim di Bondi Jadi Pahlawan Yahudi

✍🏻 SHAUN KING (Aktivis Muslim AS)

Ada sebuah klip video yang beredar dari televisi Israel. Anda mungkin sudah melihatnya. Di sana, Benjamin Netanyahu berdiri di podium, berbicara pada kerumunan tentang peristiwa mengerikan di Pantai Bondi, Sydney.

Dia berbahasa Ibrani. Katanya, dia melihat "sebuah video seorang Yahudi yang menerkam salah satu pembunuh, merebut senjatanya, dan menyelamatkan entah berapa banyak nyawa."

Pidato itu disiarkan nasional. Dan sekarang, coba tebak, berapa banyak orang Israel yang percaya bahwa sang penangkap penembak di Bondi adalah seorang Yahudi? Padahal, kenyataannya sama sekali berbeda.

Pria dalam video itu bukan Yahudi. Namanya Ahmed al Ahmed. Usianya 43 tahun, seorang Muslim asal Suriah yang sehari-hari mengelola toko buah lokal. Dia ayah dari dua anak. Saat tembakan meletus, dia justru berlari ke arah bahaya, berusaha merebut senjata si penyerang. Dua peluru menembus tubuhnya dalam aksi nekat itu. Netanyahu menyaksikan keberanian itu, lalu mengubah agama pria itu dengan mulutnya sendiri.

Ini cerita tentang Ahmed, tentang Bondi, dan tentang kebohongan yang sengaja dirawat.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bondi

Minggu sore itu, ratusan orang memadati Pantai Bondi untuk sebuah acara Hanukkah yang diadakan Chabad. Suasana riuh seperti biasa keluarga, anak-anak, turis. Lalu, dua pria bersenjata, disebut-sebut seorang ayah dan anak, mulai menembak ke kerumunan. Lima belas orang meninggal, puluhan luka-luka. Korban termuda berusia sepuluh tahun, yang tertua 87. Serangan ini jelas menargetkan orang Yahudi yang sedang merayakan hari rayanya.

Di tengah kekacauan dan pembantaian itu, Ahmed al Ahmed seorang Muslim Suriah pemilik toko buah membuat keputusan yang sulit dibayangkan. Dalam video lain yang kini viral, Anda bisa melihat salah satu penembak bersembunyi di balik pohon palem. Ahmed bersembunyi di balik mobil. Tiba-tiba, dia melesat keluar. Berlari kencang, menjatuhkan si penembak, merebut senjatanya, lalu mengarahkan senjata itu kembali ke penyerang.

Keluarga Ahmed bercerita, dia mencoba menembak balik, tapi senjatanya sudah kosong. Di rekaman, terlihat dia menurunkan senjata dan mengangkat satu tangan ke arah polisi, berusaha memberi tanda bahwa dia bukan ancaman. Dalam perkelahian itu, dia tertembak di lengan dan tangan. Dia sudah dioperasi.

Sepupunya bilang pada media Australia, “Dia pahlawan, 100% dia pahlawan.”

Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, menyebutnya pahlawan sejati yang menyelamatkan banyak nyawa. Perdana Menteri Australia juga memuji warga yang “berlari menuju bahaya” itu. Bahkan Donald Trump, dari Gedung Putih, ikut memuji keberanian pria dalam video tersebut.

Pria itu adalah Ahmed. Seorang Muslim Suriah yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang Yahudi di perayaan Hanukkah.

Netanyahu Melihat, Lalu Mengubah Agamanya

Kembali ke kutipan Netanyahu. Di podium, di depan kamera, dia dengan spesifik menyebut pahlawan itu “seorang Yahudi”. Bukan sekadar “pria pemberani” atau “warga Australia”, tapi secara khusus Yahudi.

Padahal, saat pidato itu disampaikan, faktanya sudah jelas. Media Australia sudah melaporkan nama, usia, dan latar belakang Ahmed. Pemimpin lokal sudah memujinya. Keluarganya sudah berbicara. Mustahil perdana menteri Israel dengan akses intelijen dan pengarahan keamanannya tidak tahu siapa Ahmed sebenarnya.

Dia tidak ingin tahu.

Netanyahu tak bisa menerima kenyataan bahwa gambaran kepahlawanan paling nyata dari sebuah pembantaian yang menargetkan Yahudi justru datang dari seorang Muslim Suriah. Jadi, dia mengedit fakta itu. Dalam versinya, pahlawan itu jadi Yahudi. Identitas Muslim yang membuat cerita ini begitu kuat dan mengganggu narasinya, dihapus begitu saja.

Ini bukan salah ucap kecil. Ini propaganda. Ini Islamofobia. Ini pencurian kehormatan.

Selama lebih dari dua tahun, sepanjang genosida di Gaza yang dimulai Oktober 2023, Netanyahu terus menggambarkan warga Palestina sebagai “anak-anak kegelapan”, bahwa mereka semua Hamas, bahwa tak ada warga sipil yang tak bersalah. Seluruh proyeknya bergantung pada keyakinan bahwa Muslim khususnya Muslim Palestina adalah ancaman bagi kehidupan Yahudi. Dengan narasi itu, dia menjual pemboman, pengepungan, kelaparan, dan pengusiran tanpa henti.

Jadi, ketika realita memberinya kisah tentang seorang Muslim yang menyelamatkan nyawa Yahudi dengan tangan kosong, nalurinya bukan menghormati kebenaran. Nalurinya adalah menimpanya.

Mengapa Kebohongan Ini Harus Diungkap?

Mungkin ada yang bilang, “Ah, yang penting kan pahlawannya dipuji, agamanya salah sebut sedikit tak apa.” Sikap masa bodoh semacam itu justru bagian dari cara kerja propaganda.

Ini penting karena kebenaran itu penting, terutama sekarang. Identitas Ahmed bukan catatan kaki. Latarnya sebagai Muslim Suriah adalah inti dari makna tindakannya. Di dunia di mana Muslim terus digambarkan sebagai ancaman, seorang pria Muslim yang berlari menuju peluru untuk melindungi orang Yahudi di acara Hanukkah langsung meruntuhkan stereotip. Cerita semacam ini bisa melunakkan hati dan mempersulit prasangka.

Netanyahu tak bisa biarkan itu terjadi.

Pemimpin yang sama yang mengawasi kampanye dehumanisasi terhadap Muslim di Gaza dan Tepi Barat, tak mungkin berdiri dan berkata, “Seorang Muslim menyelamatkan nyawa orang Yahudi.” Kelangsungan politiknya dibangun di atas citra Muslim sebagai bahaya dan dirinya sebagai perisai. Maka, ceritanya harus dibentuk ulang. Dalam versinya, pahlawan adalah Yahudi, penjahatnya Muslim, dan dunia terus berputar sesuai kemauannya.

Ada ironi pahit di sini. Bertahun-tahun, komentator Zionis kerap bertanya, “Di mana suara Muslim yang mengutuk antisemitisme? Di mana Muslim yang melindungi Yahudi?” Nah, ketika seorang pria Muslim benar-benar melakukannya dengan tubuhnya, ketika dia menerima peluru untuk nyawa orang Yahudi, perdana menteri Israel menatapnya dan menyebutnya Yahudi.

Begitulah permainannya. Standar selalu berubah. Bukti tak pernah dianggap kecuali cocok dengan skenario.

Ahmed tidak berlari ke arah senjata karena ingin jadi bagian dari narasi PR siapa pun. Dia bukan politisi atau influencer. Dia cuma seorang pria yang melihat manusia lain dibantai, lalu memutuskan mempertaruhkan nyawanya untuk menghentikannya.

Tindakannya murni tentang kemanusiaan, bukan hasbara. Dan itulah yang dihapus oleh kebohongan Netanyahu.


Anak-anak Ahmed berhak tumbuh dalam dunia yang tahu bahwa ayah Muslim mereka menyelamatkan puluhan nyawa Yahudi. Mereka berhak mendengar namanya disebut jujur, bukan diganti dengan sebutan samar “pahlawan Yahudi” dalam pidato orang. Keluarga-keluarga Yahudi yang selamat malam itu juga berhak tahu bahwa seorang Muslim Suriah mempertaruhkan nyawa untuk mereka. Kenyataan itu penting bukan cuma sebagai fakta, tapi sebagai celah di dinding kebencian.

Netanyahu berbohong tentang hampir segalanya: Gaza, niat, proporsionalitas, hukum internasional. Maka, tak heran dia berbohong tentang seorang pahlawan di Sydney. Tapi itu harusnya tetap membuat kita marah. Itu harusnya mendorong kita membela kenyataan.

Seorang pria Muslim Suriah bernama Ahmed al Ahmed berlari ke arah pria bersenjata di sebuah acara Hanukkah di Pantai Bondi. Dia merebut senjata itu. Dia ditembak dua kali. Dia membantu menyelamatkan banyak nyawa. Itulah ceritanya. Itulah kebenarannya. Perdana menteri Israel melihat kebenaran itu di televisi nasional, dan memutuskan untuk mengubahnya.

Kita tidak berutang apa pun pada kebohongannya. Kita berutang kebenaran pada Ahmed.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler