Diskusi Pejabat dengan Mahasiswa di UGM Ricuh, Budiman Sudjatmiko Dievakuasi

- Selasa, 16 Juni 2026 | 20:00 WIB
Diskusi Pejabat dengan Mahasiswa di UGM Ricuh, Budiman Sudjatmiko Dievakuasi

Diskusi yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Yogyakarta, pada Senin malam berakhir ricuh setelah massa mahasiswa memenuhi area panggung. Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, mengaku masih ingin melanjutkan dialog, tetapi situasi dinilai sudah tidak kondusif lagi.

Keributan itu terjadi saat Budiman hadir mendampingi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Ketiga pejabat tersebut sebelumnya tengah membahas kebijakan pemerintah mengenai sistem ekspor terpadu melalui satu pintu. Peristiwa ini menjadi sorotan lantaran memperlihatkan ketegangan antara pengambil kebijakan dan mahasiswa dalam forum akademik.

“Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa, tapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif,” kata Budiman dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa dini hari.

Diskusi yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB itu semula berjalan dengan pemaparan materi dari para pejabat. Namun, situasi berubah drastis ketika mahasiswa mulai berdatangan dan memenuhi panggung. Budiman menyebut forum seharusnya menjadi ruang dialog yang sehat dan lancar. Ia mengaku tidak keberatan tetap menemui mahasiswa di dalam gedung, tetapi petugas keamanan menilai kondisi berpotensi semakin tidak aman.

“Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat dan lancar,” ujar Budiman. “Petugas keamanan menghawatirkan kondisi yang semakin tidak kondusif apabila saat itu kita semua masih berada di dalam gedung. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk tetap menemui mahasiswa di dalam gedung,” lanjutnya.

Sebelum kericuhan pecah, Budiman sempat menanggapi isu yang diangkat mahasiswa terkait kabar pemasangan alat pelacak pada mobil usai aksi massa di kawasan Gejayan, Sleman. Ia menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo Subianto tidak akan membungkam siapa pun. Namun, sesaat setelah pernyataan itu disampaikan, massa mulai mendekati panggung dan suasana diskusi berubah tidak terkendali. Budiman kemudian dievakuasi oleh petugas keamanan kampus ke satu arah, sementara Nusron Wahid dan Sudaryono diarahkan menjauhi arena dari arah lain.

Di sisi lain, Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Bintang Mesa, menilai para pejabat tidak layak membicarakan Pancasila selama masih membungkam suara rakyat dan menganggap kritik sebagai gangguan. “Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat, program MBG, Kopdes Merah Putih, dan banyak hal yang sekarang terjadi, perihal kondisi ekonomi,” kata Mesa.

Menurut Mesa, gesekan yang terjadi dalam forum tersebut merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Ia menilai pejabat tidak cukup hanya diberi masukan secara pelan, tetapi perlu didatangi dan diteriaki ketika kritik tidak didengar. “Gesekan-gesekan yang terjadi tadi justru memang hal yang wajar dalam negara demokrasi, yang saat ini justru mereka tidak hanya bisa dibisiki, tapi memang harus diteriaki, mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain cara itu. Bahkan ketika itu dilakukan, tidak ada jaminan bahwa mereka merasa bersalah,” tuturnya.

Mesa juga menjelaskan aksi kejar-kejaran terjadi karena mahasiswa menilai para pejabat menghindar. Ia menyebut mahasiswa tidak akan mengejar bila pertanyaan mereka dijawab. “Kami tidak akan mengejar-ngejar mereka seandainya mereka menjawab satu pertanyaan sederhana saya: apakah mereka merasa bersalah?” ujarnya.

Kericuhan diskusi di UGM ini memperlihatkan bahwa ruang dialog antara mahasiswa dan pejabat pemerintah belum sepenuhnya berjalan mulus. Forum yang semula dirancang sebagai ajang diskusi justru berubah menjadi arena protes terbuka terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar