Demam Piala Dunia 2026 telah menjangkau hingga ke pelosok Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di Dusun Sulilie, Kelurahan Pompanua, Kecamatan Ajangale, warga secara serentak menghiasi lingkungan mereka dengan bendera negara-negara peserta turnamen sepak bola terbesar di dunia. Pemandangan itu terlihat jelas di sepanjang jalan kampung, di mana bendera Argentina, Brasil, Jerman, Prancis, hingga Spanyol berkibar di depan rumah-rumah warga, menciptakan nuansa layaknya “kampung Piala Dunia” yang menyita perhatian pengguna jalan.
Tradisi memasang bendera negara jagoan ini menjadi wujud nyata antusiasme masyarakat dalam menyambut pesta sepak bola global. Menurut Darwis, seorang warga setempat, kegiatan itu bukan sekadar simbol dukungan terhadap tim kesayangan, melainkan juga mempererat kebersamaan antarwarga. Meskipun pilihan tim berbeda-beda, suasana kampung tetap dipenuhi keakraban dan semangat sportivitas.
“Setiap rumah punya negara jagoan masing-masing. Ada yang dukung Argentina, Brasil, Jerman, bahkan negara-negara lain. Justru karena berbeda pilihan, suasananya jadi lebih meriah,” ujarnya.
Sementara itu, menjelang pertandingan-pertandingan besar, warga juga menggelar acara nonton bareng untuk menyaksikan laga tim favorit mereka. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi di antara sesama warga.
Keberadaan ratusan bendera yang berkibar membuat Sulilie tampil berbeda dari biasanya. Warna-warni bendera yang menghiasi jalan kampung menghadirkan nuansa internasional dan menjadi spot menarik bagi warga yang melintas. Dengan semangat sepak bola yang begitu tinggi, Sulilie Ajangale kini layak disebut sebagai salah satu “Kampung Piala Dunia” di Bone, tempat euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia dirayakan hingga ke tingkat kampung.
Artikel Terkait
Alibi Palsu Suami Pembunuh Istri di Makassar Terbongkar, Luka Ditubuhnya Rekayasa Sendiri
FK Unhas Lantik Empat Wakil Dekan dan Ketua GPM-PR Periode 2026–2030
Gempa M 6,7 Guncang Palu, Ratusan Pasien RSUD Sulbar Dievakuasi ke Area Terbuka
Mahfud MD Kagumi Tradisi Pemimpin di Palopo: Tak Boleh Kaya Sebelum Rakyat Makan