Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026: Niat, Tata Cara, serta Keutamaan Penghapusan Dosa Jelang Idul Adha

- Minggu, 24 Mei 2026 | 18:40 WIB
Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026: Niat, Tata Cara, serta Keutamaan Penghapusan Dosa Jelang Idul Adha

Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, umat Muslim mulai mencari informasi mengenai niat dan tata cara pelaksanaan puasa Tarwiyah dan Arafah. Dua puasa sunnah yang dikerjakan pada awal bulan Dzulhijjah ini dinilai memiliki keutamaan yang besar, termasuk di antaranya penghapusan dosa. Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sementara puasa Arafah dikerjakan sehari sebelum Idul Adha, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Kedua ibadah ini sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Namun, bagi para jemaah haji yang tengah menjalani puncak ritual di Arafah, berpuasa pada hari tersebut hukumnya haram. Anjuran ini bertujuan agar umat Islam yang tidak berhaji dapat turut merasakan nikmatnya ibadah di hari-hari mulia tersebut, sebagaimana yang dirasakan oleh para tamu Allah di Tanah Suci.

Penamaan puasa Tarwiyah sendiri memiliki akar sejarah yang menarik. Kata “tarwiyah” berasal dari kata “tarawwa” yang berarti membawa bekal air. Pada masa lalu, para jemaah haji membawa banyak air zam-zam untuk persiapan menuju Arafah dan Mina. Mereka minum, memberi minum unta, dan membawanya dalam wadah sebagai persiapan perjalanan. Sementara itu, istilah “Arafah” memiliki arti “mengetahui”. Menurut riwayat dari Ibnul Mubarak, tempat wukuf dinamakan Arafah karena ketika Malaikat Jibril memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim tempat-tempat manasik, Nabi Ibrahim berkata, “Aku telah mengenal ini” (dalam bahasa Arab disebut ‘Araftu’), sehingga tempat itu kemudian dinamakan Arafah.

Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam bukunya yang berjudul “Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?” menjelaskan korelasi antara puasa Arafah dan wukuf Arafah. Menurutnya, hari Arafah adalah hari di mana semua jamaah haji melaksanakan puncak ritual haji dengan wukuf di Arafah. Hal inilah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW bahwa “Al-Hajju Arafah” atau haji itu adalah Arafah. Wukuf di Arafah harus bertepatan dengan dua hal, yaitu waktu pada tanggal 9 Dzulhijjah dan tempat di Arafah.

Di sisi lain, puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan oleh mereka yang tidak sedang melaksanakan wukuf. Waktu pelaksanaannya bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, saat para jemaah haji tengah wukuf. Dengan demikian, terdapat titik temu antara dua ibadah ini, yaitu kesamaan waktu. Namun, perlu dipahami bahwa keduanya tidak saling berkaitan. Ibadah wukuf tetap sah meskipun orang-orang di luar Mekah tidak berpuasa, dan sebaliknya, puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah tetap sah meskipun orang yang berhaji tidak melaksanakan wukuf.

Berdasarkan kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama, puasa Tarwiyah tahun 2026 jatuh pada hari Senin, 25 Mei 2026. Sementara itu, puasa Arafah dilaksanakan pada hari Selasa, 26 Mei 2026, dan Idul Adha jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Dengan demikian, umat Islam dapat mempersiapkan diri untuk menjalankan kedua ibadah sunnah tersebut pada tanggal-tanggal yang telah ditetapkan.

Niat menjadi salah satu rukun penting dalam menjalankan ibadah puasa. Untuk puasa Tarwiyah, bacaan niatnya adalah: “Nawaitu shouma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala” yang artinya “Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.” Sementara itu, untuk puasa Arafah, bacaannya adalah: “Nawaitu shouma arafata sunnatan lillahi ta’ala” yang artinya “Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah disebutkan dalam sejumlah hadits. Salah satunya adalah penghapusan dosa. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dan Abdullah bin Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa puasa di hari Tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu, sedangkan puasa Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Hadits lain dari Abu Qatadah juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berharap puasa Arafah menjadi penebus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.

Selain itu, keutamaan lainnya adalah pahala yang dilipatgandakan. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa siapa yang berpuasa selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Khusus untuk puasa Tarwiyah, pahalanya seperti puasa setahun, sedangkan puasa Arafah seperti puasa dua tahun. Hadits ini berasal dari jalur Ali al-Muhairi dari at-Thibbi, dari Abu Sholeh, dari Ibnu Abbas secara marfu’.

Puasa di bulan Dzulhijjah juga dinilai memiliki nilai lebih dibandingkan puasa sunnah di bulan lainnya. Imam As-Syarwani menyatakan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah Al-Asyhur al-hurum, dan yang paling utama dari keempatnya adalah bulan Muharam, Rajab, Dzulhijah, kemudian Dzulqa’dah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah di bulan ini sangat istimewa.

Keutamaan lain yang tidak kalah penting adalah pembebasan dari api neraka. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah. Bahkan, Allah mendekat dan membanggakan mereka di depan para malaikat seraya berkata, “Apa yang mereka inginkan?”

Puasa Tarwiyah dan Arafah juga disebut sebagai puasa paling utama setelah Ramadan. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn ‘Abbas, Rasulullah bersabda bahwa tidak ada satu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah selain dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat pun bertanya, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab, “Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja.”

Terakhir, menjalankan puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan bentuk mengikuti sunnah Nabi SAW. Dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud, disebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berpuasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah, berpuasa di hari Asyura, berpuasa tiga hari di setiap bulannya, serta puasa Senin dan Kamis. Dengan menjalankan ibadah ini, umat Muslim tidak hanya mendapatkan pahala yang berlipat, tetapi juga meneladani kebiasaan Rasulullah dalam beribadah.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler