JAKARTA - Bagi banyak muslim di Indonesia, impian untuk menunaikan haji seringkali terasa jauh. Namun, ada sebuah amalan yang diyakini bisa menjadi wasilah terkabulnya hajat itu: membaca sholawat haji. Iya, sholawat yang tak sekadar pujian pada Nabi, tapi juga doa khusus agar dimudahkan sampai ke Baitullah.
Perintah bershalawat sendiri jelas tertuang dalam Al-Qur'an. Allah berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Mengapa harus bershalawat? Keutamaannya besar. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, yang intinya, orang yang paling banyak bershalawat untuk beliau, dialah yang paling berhak mendapat syafa'atnya kelak di hari kiamat. Ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas'ud.
Nah, soal haji, pahalanya memang luar biasa. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyebut bahwa "haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga." Luar biasa, bukan?
Maka, selain ikhtiar lahir menyiapkan biaya dan fisik, ikhtiar batin dengan amalan seperti sholawat ini juga penting. Salah satu sholawat yang dianjurkan adalah sholawat haji berikut ini, yang biasa dibaca usai shalat fardhu.
Berikut teksnya:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَزِيَارَةَ حَبِيْبِكَ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ اَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلاَمِ، فِي صِحَّةٍ وَعَافِيَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Bacaan latinnya: Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholatan tuballighunaa bihaa hajja baitikal haraam wa ziyaarata habibika Muhammadin alaihi afdhalush shalaatu was salaam fi luthfin wa ‘aafiyatin wa salaamatin wa bulughil maraam wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa barik wa sallim.
Artinya kurang lebih: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, sebuah rahmat yang bisa mengantarkan kami menunaikan haji ke rumah-Mu dan berziarah kepada kekasih-Mu, dalam keadaan sehat, selamat, dan tujuan tercapai. Limpahkan pula salam kepada keluarga dan sahabat beliau.”
Sholawat ini disebutkan dalam kitab "Al-Wasiilatul Hariyyah" karya Syaikh Ahmad Qusyairi. Konon, ada anjuran dari seorang kiai di Grobogan, KH Ahmad Baedlowie Syamsuri, untuk membacanya sekali setiap hari setelah Isya, atau 40 kali di malam Jumat. Tujuannya sebagai perantara agar diberi rezeki bisa berhaji.
Di sisi lain, menariknya, ternyata ada beberapa amalan lain yang pahalanya disetarakan dengan haji. Ustaz Hanif Luthfi dari Rumah Fiqih Indonesia pernah mengulasnya. Walau ringan, pahalanya sungguh tak main-main.
Pertama, umrah di bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda bahwa umrah di bulan suci itu nilainya setara dengan haji. Tapi para ulama seperti Imam Nawawi menegaskan, ini dalam konteks pahala, bukan menggugurkan kewajiban haji jika sudah mampu.
Kedua, berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Dalam sebuah riwayat, seseorang yang ingin jihad tapi tak mampu disarankan Nabi untuk berbakti pada ibunya. "Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad," begitu sabda beliau.
Ketiga, berjalan untuk shalat fardhu berjamaah di masjid. Hadits dari Abu Umamah menyebutkan, siapa yang melakukannya, ia seperti berhaji.
Keempat, shalat Dhuha atau Isyraq. Caranya? Shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu tetap duduk berdzikir sampai matahari terbit, lalu shalat Dhuha. Pahalanya setara haji dan umrah yang sempurna.
Kelima, menghadiri majelis ilmu di masjid dengan niat tulus belajar atau mengajar. Ini juga diganjar pahala haji sempurna.
Keenam, membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali usai shalat. Amalan ini disebutkan dalam hadits Bukhari sebagai pengejar ketertinggalan dari orang-orang yang mampu berhaji dan bersedekah.
Dan ketujuh, niat atau tekad kuat untuk berhaji. Bagi yang sudah berusaha dan mendaftar, namun meninggal sebelum berangkat, insya Allah dicatat seperti telah melakukannya. Dasarnya adalah keumuman sabda Nabi bahwa orang yang tertahan uzur (seperti sakit) tetap mendapat pahala seperti orang yang beramal.
Nah, buat calon jamaah haji yang persiapan sudah matang, bahkan sudah berpamitan, tapi sempat tertunda seperti pada masa pandemi, semoga ikhtiar dan niat tulus itu sudah dicatat sebagai pahala. Harapannya, tahun depan atau di waktu yang ditakdirkan, bisa berangkat dalam keadaan terbaik.
Intinya, jalan menuju pahala haji ternyata terbuka lebar. Bisa dengan sholawat haji, bisa juga dengan amalan-amalan sehari-hari yang ikhlas. Tinggal kita yang memilih, mau memulai dari yang mana.
Wallahu A'lam.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Dilaporkan Jadi Korban Penipuan Bisnis Mukena Rp5,5 Miliar
Pemerintah Jatim dan Industri Bahas Penyelarasan Kurikulum Vokasi dengan Kebutuhan Pasar
Pemprov DKI Resmi Gratiskan 103 Sekolah Swasta dari SD hingga SLB Mulai 2026
PNM Gelar Demo Day Mekaarpreneur 2026, Tingkatkan Kapasitas Usaha Ultra Mikro