Pemerintah Jatim dan Industri Bahas Penyelarasan Kurikulum Vokasi dengan Kebutuhan Pasar

- Rabu, 22 April 2026 | 23:40 WIB
Pemerintah Jatim dan Industri Bahas Penyelarasan Kurikulum Vokasi dengan Kebutuhan Pasar

SURABAYA Pendidikan vokasi lagi-lagi jadi topik hangat. Kenapa? Soalnya, ada desakan kuat agar kompetensi lulusan benar-benar klop dengan kebutuhan industri, terutama di sektor ekonomi kreatif dan konten digital yang sedang melejit.

Isu ini mencuat dalam sebuah pertemuan di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 20 April lalu. Hadir di sana, perwakilan HGI, Ray dan Niny, yang berdiskusi langsung dengan sang Kepala Dinas, Dr. Aries Agung Paewai.

Pembicaraan mereka berlangsung cukup intens. Dari situ, terungkap sejumlah tantangan yang masih menghadang. Mulai dari kesenjangan keterampilan yang kerap dikeluhkan industri, sampai kebutuhan akan kolaborasi yang lebih nyata dan konkret.

“Kita punya peluang besar di bidang animasi dan desain gim,” begitu salah satu poin yang mengemuka. Prospeknya memang cerah, tapi dukungan sistem pendidikan dinilai masih perlu lebih adaptif lagi. Nggak cuma teori, tapi praktik.

Di sisi lain, muncul gagasan untuk memperkuat kerja sama lewat skema yang lebih aplikatif. Misalnya, pembelajaran berbasis proyek langsung dari industri atau melibatkan praktisi untuk mengajar di kelas. Intinya, siswa harus lebih sering ‘basah tangan’.

Yang tak kalah penting, dibahas juga soal bagaimana menghubungkan ekosistem vokasi Jatim dengan sumber daya industri yang lebih luas. Ini dianggap krusial. Tujuannya jelas: meningkatkan kompetensi siswa, memperkuat daya saing lulusan, dan tentu saja, menjawab tuntutan pasar kerja yang terus berubah.

Menariknya, sehari sebelum pertemuan itu, Dr. Aries terlihat di acara yang sama sekali berbeda: penutupan Surabaya Domino Tournament 2026. Ia menyerahkan penghargaan dan berswafoto dengan peserta.

Kehadirannya di sana, plus unggahan di media sosialnya, menunjukkan sesuatu. Ruang interaksi komunitas seperti itu ternyata diperhatikan. Bisa jadi, ini adalah pintu masuk untuk dialog lintas sektor yang lebih cair.

Jadi, rangkaian kegiatan dari turnamen hingga pertemuan resmi itu memperlihatkan satu hal: ada ruang komunikasi yang mulai terbuka. Antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri. Semua berupaya mendorong pendidikan vokasi yang lebih relevan.

Harapannya sih sederhana: peluang pembelajaran yang praktis makin terbuka, dan akses bagi anak muda Jatim untuk terjun ke industri kreatif jadi makin lebar. Tinggal eksekusinya saja nanti.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar