Perang Melawan Lumpur: Pemulihan Aceh Masih Berat, Inflasi Melonjak

- Kamis, 15 Januari 2026 | 19:54 WIB
Perang Melawan Lumpur: Pemulihan Aceh Masih Berat, Inflasi Melonjak

Rapat koordinasi di Kantor Kemendagri, Kamis lalu, berlangsung dengan nada yang cukup serius. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang memimpin Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, tak menampik bahwa pekerjaan di Aceh masih sangat berat. Butuh kerja keras luar biasa, bukan cuma dari pemerintah pusat, tapi juga dari semua jajaran di daerah.

Menurut sejumlah saksi, kondisi di lapangan memang masih memprihatinkan. Tito sendiri memaparkan, pemerintahan di Aceh Tamiang contohnya, masih sangat terdampak. Bahkan, sejumlah kantor dinas belum bisa berfungsi optimal.

“Kantor bupatinya saja hanya lantai dua. Lantai satunya masih tumpuk-tumpukan bekas lumpur hampir 2 meter setengah. Kepala dinasnya, kantor kedinasannya, satu pun belum beroperasi maksimal,” ujarnya.

Persoalan tak berhenti di situ. Di sisi lain, masih banyak desa yang lumpuh total. Angkanya jauh lebih tinggi dibanding provinsi lain di Sumatera. Tito menyebut data yang cukup mencengangkan.

“Ada 1.555 desa yang belum beroperasi. Berapa? Kemudian, ya ini, 1.455. Beda jauh dengan Sumut 64, Sumbar 45. Ini faktanya,” ungkapnya.

Memang, di sektor kesehatan seluruh fasilitas sudah berjalan. Tapi jangan dibayangkan sudah maksimal. Beberapa peralatan medis penting dilaporkan rusak.

“Ada yang MRI-nya, CT Scan-nya, ada yang rusak, ya. Kemudian juga ada yang kamar pendingin jenazahnya enggak dingin,” kata dia.

Dampaknya benar-benar merata. Mulai dari sekolah, jalan, pasar, rumah ibadah, sampai jaringan listrik dan air bersih porak-poranda. Untuk masalah air, Tito menyebut beberapa wilayah PDAM-nya masih bermasalah, seperti Aceh Tenggara, Pidie, Singkil, Nagan Raya, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang. Wilayah lainnya relatif lebih baik.

Nah, untuk mengatasi semua ini, Tito menekankan satu hal: perang melawan lumpur. Terutama di dataran rendah seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Utara. Pembersihan harus dipercepat.

“Kerjanya ya melawan lumpur, perangnya lawan lumpur. Untuk itu sepatu bot, perlengkapan peperangan, cangkul, sekop, alat dorong, ekskavator, dump truck itu jadi kunci,” tegasnya.

Namun begitu, tantangan lain yang tak kalah pelik adalah ekonomi. Inflasi di Aceh melonjak signifikan, menempati urutan tertinggi di Sumatera.

“Aceh menempati urusan satu, 6,70% harga-harga barang naik. Sumbar nomor dua, 5,15% naik. Sumatera Utara nomor tiga, 4,66%,” katanya.

Pada akhirnya, pemulihan infrastruktur fisik saja tidak cukup. Kebangkitan ekonomi dan pemulihan daya beli masyarakat menjadi kunci utama. Itulah yang akan membuat pengungsi mau dan mampu kembali ke rumah mereka, memulai hidup lagi.

“Pemulihan akan terjadi ketika mereka sudah kembali, sudah berusaha, rumahnya sudah bisa dikerjakan, tinggal di rumah atau tinggal di huntara ya, itu adalah salah satu simbol pemulihan,” tutup Tito.

Jelas, jalan menuju normal masih panjang. Butuh sinergi yang solid dan kerja tanpa lelah dari semua pihak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar