Jakarta tak pernah sepi dari agenda pembangunan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) kini mengulurkan tangan lebih jauh ke sektor swasta. Tujuannya jelas: memperkuat pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi. Tak tanggung-tanggung, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara sedang menjajaki peluang kolaborasi dengan PT Haeng Nam Sejahtera Indonesia (HSI), sebuah perusahaan manufaktur keramik. Kerja sama ini diharapkan bisa menciptakan ekosistem ekonomi baru di daerah-daerah yang selama ini mungkin kurang tersentuh.
“Kita saat ini sedang fokus pada kuantitas, bukan hanya kualitas, agar semakin banyak masyarakat transmigrasi yang merasakan manfaat dari berbagai program pemberdayaan,” ujar Iftitah di Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Minggu (15/3/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar wacana. Iftitah menekankan, fokus utama mereka sekarang adalah meningkatkan kesejahteraan. Bukan cuma soal membangun jalan atau jembatan, tapi lebih ke arah kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Ia punya mimpi yang cukup visioner.
“Suatu saat saya punya mimpi, transmigran bisa memproduksi sendiri produk seperti ini (keramik). Ini bisa menjadi bagian dari pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi,” tuturnya penuh harap.
Nah, bagaimana tanggapan dari pihak swasta? Rupanya, PT HSI menyambut baik gagasan ini. Ellen, Manager Design Development perusahaan tersebut, menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung lewat program CSR. Tahun lalu, mereka sudah menyalurkan paket pecah belah ke sejumlah daerah seperti Polewali Mandar, Sidrap, dan Poso. Untuk tahun 2026, rencananya akan lebih masif lagi.
“Terkait permintaan Pak Menteri, pada tahun 2026 kami akan menyiapkan pengiriman sebanyak 1.094 paket setelah lebaran. Sekitar 300 paket di antaranya akan disiapkan untuk dikirim ke Rempang dalam waktu dekat,” jelas Ellen.
Namun begitu, langkah Kementrans tak berhenti di situ. Mereka punya rencana lebih lanjut. Kementerian berencana mengajak para pelaku usaha untuk turun langsung melihat kondisi kawasan transmigrasi. Dengan meninjau lapangan, diharapkan potensi lapangan kerja dan peluang ekonomi yang lebih nyata bisa teridentifikasi. Ini bukan sekadar bantuan, tapi upaya membangun kemitraan yang saling menguntungkan.
Jadi, ke depan, kerja sama seperti ini mungkin akan semakin sering kita dengar. Antara pemerintah dan swasta, berkolaborasi untuk membangun dari pinggiran. Hasilnya? Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Banjir Bandang Sarolangun: 19 Rumah Hanyut, Ratusan Rusak, 390 KK Terdampak
Bayi Laki-Laki Ditemukan Tewas di Bantaran Kali Anyar Solo, Polisi Selidiki Pembuangan
Israel Terus Bombardir Lebanon di Tengah Gencatan Senjata, 10 Tewas Termasuk Tim Penolong
Borneo FC Taklukkan Persik Kediri 1-0 di Stadion Brawijaya