Kekurangan Perawat Onkologi Ancam Penanganan Kanker di Indonesia

- Jumat, 13 Februari 2026 | 16:50 WIB
Kekurangan Perawat Onkologi Ancam Penanganan Kanker di Indonesia

MURIANETWORK.COM - Indonesia menghadapi tantangan serius dalam penanganan kanker akibat minimnya jumlah perawat onkologi. Padahal, peran spesialis ini sangat krusial, terutama untuk mendampingi pasien kanker payudara yang kasusnya mencapai 41,8 per 100.000 penduduk menurut data Globocan 2022. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga terampil ini menjadi perhatian utama para pelaku layanan kesehatan.

Kompleksitas Perawatan Kanker Butuh Keahlian Khusus

Perawat onkologi bukan sekadar perawat biasa. Mereka dibekali ilmu khusus untuk menangani kompleksitas pengobatan kanker, mulai dari pemberian obat kemoterapi yang sitotoksik hingga memberikan dukungan psikologis dan edukasi kepada pasien. Tanpa kompetensi ini, proses perawatan bisa menghadapi risiko.

Edy Gunawan, CEO MRCCC Siloam Hospitals, menekankan bahwa penanganan obat kemoterapi memerlukan prosedur ketat yang mungkin tidak dikuasai perawat umum. "Obat kemoterapi itu sangat sitotoksik, artinya harus di-handle khusus. Kalau perawat umum belum tentu paham pakai alat pelindung dirinya seperti apa, obat kemoterapi ini boleh terbuka di udara berapa lama," jelasnya.

Ia menambahkan detail teknis yang kritis. "Lalu, obat kemoterapi tertentu sebelum disuntik ke pasien, harus di-cross check dulu. Ini apakah warnanya berubah, apakah ada kontaminasi, dan lainnya. Nah, perawat biasa belum tentu memiliki kompetisi itu," lanjut Edy.

Target Jangka Panjang dan Upaya Kolaborasi

Menyadari urgensi ini, MRCCC Siloam Hospitals sendiri baru memiliki empat perawat onkologi. Target jangka panjang mereka ambisius: dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, 70 perawat di rumah sakit tersebut diharapkan telah tersertifikasi onkologi. Pencapaian target itu tidak mudah dan membutuhkan upaya kolektif.

Untuk mempercepat pengembangan SDM, pihak rumah sakit menjalin kemitraan dengan Roche Indonesia. Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan layanan onkologi melalui terapi, teknologi, dan yang terpenting, edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan.

Pelatihan Masih Jauh dari Kebutuhan Ideal

Upaya pelatihan memang telah berjalan, namun skalanya masih belum memadai. Lucia Erniawati, Direktur Access Communications and Health System Values Strategy Roche Indonesia, mengungkapkan bahwa saat ini baru sekitar 200-300 perawat yang telah mendapatkan pelatihan onkologi. Angka itu dinilai masih sangat kecil untuk memenuhi beban kasus kanker di tanah air.

Lucia menegaskan standar yang seharusnya berlaku. "Sudah menjadi standar bahwa rumah sakit yang memberikan pelayanan onkologi itu perawatnya harus dilatih keperawatan onkologi dasar," tegasnya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa perjalanan untuk memenuhi kebutuhan akan perawat onkologi yang kompeten masih panjang. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan spesialis ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang menjamin keamanan, kenyamanan, dan keberlangsungan perawatan yang berkualitas bagi setiap pasien kanker di Indonesia.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar