Iran tak tinggal diam. Menanggapi langkah Uni Eropa yang memasukkan Garda Revolusi (IRGC) ke daftar organisasi teroris, parlemen di Teheran balas menyerang. Mereka dengan tegas menyebut angkatan bersenjata negara-negara anggota Uni Eropa sebagai "kelompok teroris".
Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam sebuah sidang yang penuh dengan simbol perlawanan. Suasana ruang sidang saat itu cukup tegang. Sejumlah anggota parlemen bahkan hadir dengan mengenakan seragam hijau khas IRGC, sebuah gestur solidaritas yang jelas-jelas ingin ditampilkan.
Bagi Teheran, keputusan Brussels ini bukan cuma soal keamanan. Mereka melihatnya sebagai bagian dari tekanan politik Barat yang terus berusaha menjepit Republik Islam.
Menurut Ghalibaf, semua negara Uni Eropa yang mendukung pelabelan itu otomatis masuk daftar. Itu artinya, Jerman pun termasuk. Bundeswehr, angkatan bersenjata Jerman yang terkenal itu, kini resmi dianggap organisasi teroris oleh Iran.
"Upaya Eropa menghantam Garda Revolusi justru seperti menembak kaki sendiri,"
kata Ghalibaf dengan lantang di hadapan para wakil rakyat.
Latar Belakang Ketegangan
Sebenarnya, wacana untuk melabeli IRGC sebagai teroris sudah lama bergulir di Eropa. Baru belakangan ini mereka memutuskan untuk benar-benar melakukannya. Alasannya, Uni Eropa menuding Garda Revolusi bertanggung jawab atas penindasan brutal terhadap gelombang protes di Iran, yang diklaim telah menewaskan ribuan orang.
Di sisi lain, Iran punya dasar hukum untuk membalas. Mereka mengacu pada undang-undang tahun 2019, yang disahkan setelah AS lebih dulu menetapkan IRGC sebagai teroris di era Donald Trump. Momentum pengumuman balasan ini juga sengaja dipilih, bertepatan dengan peringatan 47 tahun kembalinya Ayatollah Khomeini dari pengasingan tonggak penting kelahiran Republik Islam.
Garda Revolusi sendiri bukan sekadar pasukan militer biasa. Mereka adalah tulang punggung ideologis negara, yang bertugas menjaga "roh revolusi" dari segala ancaman, sekaligus memainkan peran besar di bidang politik dan ekonomi.
Dua Sisi yang Berbeda
Ghalibaf tak ragu menuduh Uni Eropa hanya mengikuti "instruksi dari Presiden AS dan pemimpin rezim Zionis". Dia yakin kebijakan seperti ini justru akan mempercepat kemerosotan pengaruh Eropa di panggung global. Di dalam negeri, klaimnya, dukungan untuk IRGC malah semakin membesar.
Namun begitu, di balik retorika keras itu, ada sinyal lain yang lebih lunak dan menarik untuk dicermati. Dari Washington, mantan Presiden AS Donald Trump yang dulu kerap mengancam serangan militer mengatakan bahwa Teheran kini membuka ruang untuk bicara.
"Mereka berbicara dengan kami. Kita lihat apakah ada yang bisa dilakukan,"
ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Nada serupa terdengar dari Teheran. Presiden Iran, Massud Peseschkian, menegaskan negaranya tidak pernah berniat memulai perang. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, dia menyatakan komitmen Iran untuk menghindari konflik terbuka. Bahkan, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani menyebut ada kemajuan dalam persiapan menuju perundingan dengan AS.
Jadi, di satu sisi ada retaliasi keras terhadap Eropa, di sisi lain ada sinyal dialog dengan Amerika. Dua wajah kebijakan luar negeri Iran ini tampak jelas: konfrontatif sekaligus pragmatis. Di antara keduanya, masa depan hubungan Iran-Barat masih menggantung. Semuanya diwarnai ancaman, simbolisme politik, dan tentu saja, negosiasi diam-diam yang mungkin sedang berjalan di belakang layar.
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi