Kerja Domestik yang Tak Pernah Dianggap
Lalu ada kerja domestik. Pekerjaan yang tak kunjung usai ini nyaris tak pernah dianggap sebagai kerja. Rumah berantakan? Salah istri. Tak ada makanan hangat? Istri lalai. Piring menumpuk? Pertanda dia malas.
Padahal, coba bayangkan. Kerja ini tanpa jam pulang, tanpa gaji, dan hampir tanpa apresiasi. Coba satu hari saja tugasnya terbengkalai, pertanyaan sinis langsung meluncur: "Dari tadi ngapain aja sih?"
Ketimpangan yang Dinormalisasi
Semua ini berakar dari pola yang ditanamkan sejak kecil. Perempuan dididik dekat dengan dapur dan pel, sementara laki-laki dibebaskan. Ketimpangan ini lalu diwariskan, dinormalisasi, dan akhirnya dikatakan sebagai kodrat.
Yang lucu atau lebih tepatnya menyedihkan ketika seorang suami sekadar menggendong anak atau mencuci piring, dia langsung dipuji sebagai "ayah luar biasa". Sementara istri yang menjalankan segalanya, dari urusan dalam rumah sampai cari nafkah, dianggap sebagai kewajiban biasa saja. Tidak istimewa.
Kesimpulan
Jadi, inilah realita di balik frasa "wanita selalu benar". Sebuah sistem yang gemar menyalahkan, dibungkus dengan pujian palsu. Itu bukan pemuliaan. Itu adalah cara untuk mematikan suara, meredam protes, dan menuntut ketabahan tanpa akhir.
Perempuan tidak selalu benar. Itu fakta. Tapi yang lebih nyata adalah ini: perempuan terlalu sering dipaksa menanggung kesalahan yang bukan miliknya.
Jadi, kalau masih ada yang bersikeras mengucapkan, "Wanita selalu benar," mungkin kita bisa balas dengan jujur. Iya, benar-benar sering disalahkan. Benar-benar sering dituntut. Benar-benar sering jadi kambing hitam.
Kalau itu definisi "selalu benar", silakan saja. Tapi jangan kaget kalau nanti perempuan berhenti diam. Lalu balik bertanya dengan lantang:
"Kalau kami memang selalu benar, kenapa yang salah tetap kami yang tanggung?"
Artikel Terkait
Chiki Fawzi Buka Suara Soal Tudingan Ngebet Jadi Petugas Haji
My Chemical Romance Akhirnya Pastikan Konser Tunggal di Jakarta, Tiket Mulai Rp1 Jutaan
Taylor Swift dan Kisah Ophelia: Dari Tragedi Shakespeare Menuju Kebahagiaan Baru
Mimpi Sendirian di Rumah: Cermin Jiwa atau Isyarat Perubahan?