"Wanita selalu benar." Pernah dengar kalimat itu? Di permukaan, terdengar seperti pujian. Tapi coba renungkan lagi. Rasanya lebih mirip senjata pamungkas untuk membungkam. Alih-alih memuliakan, frasa itu justru jadi cara yang sangat halus dan licik untuk menyalahkan. Perempuan, dalam posisi apa pun, seolah selalu jadi tersangka utama. Entah sebagai istri, sebagai ibu, atau sekadar sebagai manusia biasa yang kebetulan punya rahim.
Standar Kesempurnaan yang Mencekik
Begitu statusnya berubah menjadi istri, tiba-tiba ada segunung standar yang harus dipenuhi. Dia harus jago masak layaknya chef di TV, cekatan bersih-bersih rumah, tetap cantik dan segar sepanjang hari, plus jadi ibu yang tak kenal lelah. Semua harus sempurna. Lelah? Itu sepertinya kata yang tak ada dalam kamus. Istirahat? Jangan harap. Sakit? Ah, itu alasan yang terlalu klise.
Beban Ganda sebagai Ibu
Lalu datanglah peran sebagai ibu. Beban itu bertambah berat. Saat anak sakit, misalnya. Bukannya dapat dukungan, sang ibu malah dihujani tuduhan. Dicap tak becus merawat, dianggap lalai menjaga kesehatan. Seolah-olah penyakit itu adalah bukti kegagalan mutlak seorang ibu.
Namun begitu, ketika si anak berprestasi, pujiannya kemana? Seringkali justru ke ayah. "Anak Pak A hebat ya!"
Ini paradoks yang menyakitkan. Anak juara, ayah yang visioner. Anak bolos, ibu yang gagal mendidik. Sungguh beban yang tak seimbang.
Ketika Salah Selalu Ditimpakan ke Istri
Lihat juga soal perselingkuhan. Ini yang paling ironis. Ketika suami berselingkuh, yang diadili justru istrinya. Dia dituduh kurang perhatian, kurang menarik, atau kurang memahami suami. Perselingkuhan seolah jadi sebuah konsekuensi yang tak terelakkan, bukan pilihan sadar dari pelakunya. Mirip bencana alam, katanya. Bukan dosa.
Rahim jadi Tolok Ukur
Belum lagi urusan keturunan. Perjuangan memiliki anak sering jadi medan penghakiman tersendiri. Perempuan yang dianggap 'mandul' langsung dicemooh, direndahkan, bahkan dianggap tak layak dipertahankan. Rahim seakan-akan jadi satu-satunya nilai yang dia punya.
Padahal, kalau yang bermasalah justru pihak suami, ceritanya bisa lain. Sering ditutup-tutupi. Ada semacam pembelaan diam-diam, seolah laki-laki tak mungkin bersalah dalam hal ini.
Artikel Terkait
Chiki Fawzi Buka Suara Soal Tudingan Ngebet Jadi Petugas Haji
My Chemical Romance Akhirnya Pastikan Konser Tunggal di Jakarta, Tiket Mulai Rp1 Jutaan
Taylor Swift dan Kisah Ophelia: Dari Tragedi Shakespeare Menuju Kebahagiaan Baru
Mimpi Sendirian di Rumah: Cermin Jiwa atau Isyarat Perubahan?