Dua dekade lebih berkecimpung di dunia korporat telah membawa Melanie Masriel pada pemahaman yang jauh berbeda tentang arti sukses. Tak cuma itu, perjalanan panjang itu juga membentuk gaya kepemimpinannya, yang menurutnya harus relevan dengan zaman. Kini, sebagai Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability di L'Oréal Indonesia, ia meyakini bahwa kepemimpinan yang penuh empati bisa membuka mata kita pada realitas dunia.
Hampir dua puluh tahun di perusahaan multinasional Prancis itu, Melanie turut mengilhami pesan moral yang diusung L'Oréal. Pesan itu terangkum dalam slogan “Beauty That Moves the World”.
Nah, kalau kita lihat program-program seperti “Beauty For a Better Life” atau “L'Oréal–UNESCO For Women in Science”, misalnya. Inisiatif-inisiatif itu punya tujuan jelas: memajukan taraf hidup dan memberdayakan perempuan di berbagai bidang. Dan ya, program berlandaskan empati itu sebenarnya adalah cerminan langsung dari gaya kepemimpinan Melanie sendiri.
Percakapan kami di sebuah siang itu tidak sekadar mengenal sosoknya. Lebih dari itu, kami diajak menyelami identitas L'Oréal sebagai pemain besar di industri kecantikan. Berkat penguasaannya yang mendalam terhadap seluk-beluk perusahaan, Melanie mampu menawarkan perspektif segar tentang posisi sebuah brand di tengah dunia yang makin kompleks.
Intinya, dengan strategi dan komunikasi yang tepat, pesan bahwa kecantikan adalah soal pemberdayaan, kekuatan, dan keberlanjutan bisa tersampaikan. Bahkan, bisa meresap dalam.
Berikut petikan wawancara eksklusifnya di program Role Model kumparanWOMAN.
Q: Dalam perjalanan karier selama dua dekade ini, apakah ada perubahan terkait cara pandang Anda terhadap arti kesuksesan?
M: Pasti. Definisi sukses itu akan terus berkembang, seiring kita bertumbuh, baik dalam karier maupun pengalaman hidup. Soalnya, kesuksesan kan sangat bergantung pada cara kita memandang sesuatu.
Dulu, sukses itu seringkali diukur dari hal-hal seperti, “Akhirnya aku dipromosikan ke posisi ini.” Sekarang? Jauh lebih holistik dan intrinsik. Bagi saya sekarang, sukses adalah tentang tujuan, integrasi hidup, membangun warisan, serta jejaring dan perkembangan pribadi.
Pertama, soal tujuan. Sebagai pemimpin, lambat laun kita pasti bertanya, apa sih purpose kita? Why do I come to work everyday? Lalu, apa kontribusi saya bagi pekerjaan dan perusahaan ini? Purpose itu hal yang sangat krusial. Saya bersyukur, di L'Oréal kami punya purpose yang mendasar dan sangat selaras dengan purpose pribadi saya: “How we create the beauty that moves the world; that moves Indonesia.”
Kedua, work-life integration. Itu salah satu definisi sukses buat saya. Penting banget, terutama sebagai perempuan profesional, untuk tidak terjebak hanya pada pekerjaan. Hidup ini tentang bagaimana mengintegrasikan semuanya dengan kehidupan pribadi dan keluarga; menemukan keseimbangan yang lebih baik. Saat ini, purpose pribadi saya adalah melihat anak-anak tumbuh dan melangkah maju.
Dan yang tak kalah penting: membangun koneksi, jejaring, dan warisan. Bagaimana saya membangun tim yang hebat dan mandiri, atau menciptakan sistem kerja yang bisa diteruskan dan ditingkatkan ke depannya.
Q: Adakah momen silent but defining momen hening yang membentuk Anda menjadi pemimpin seperti sekarang ini?
M: Menurut saya, itu adalah momen-momen kontemplasi atau refleksi setelah suatu kejadian. Misalnya, setelah gagal atau melakukan kesalahan. Hal-hal seperti itu wajar terjadi dalam karier. Fokus saya adalah belajar dari sana, lalu menjadikannya sebuah tujuan baru.
Ada juga momen-momen penuh empati. Dalam pekerjaan, saya sering bertemu orang dari latar belakang hidup yang berbeda, atau mereka yang berada dalam situasi rentan. Menerima masukan dari orang lain juga termasuk. Semua itu adalah momen refleksi untuk meningkatkan empati. Empati adalah sifat penting bagi seorang pemimpin, terutama pemimpin perempuan. Kita harus bisa melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa yang mereka rasakan.
Lalu, momen krisis juga membentuk saya. Di dunia kerja, krisis dan isu adalah hal biasa. Di situ, saya belajar bahwa terkadang diam itu emas. Daripada buru-buru menyelesaikan masalah, lebih baik diam sejenak, mengevaluasi dengan kepala dingin.
Q: Menurut Anda, kesalahan apa yang paling sering dilakukan perempuan saat naik ke posisi strategis?
M: Saya juga pernah mengalaminya, kok. Pertama, sindrom penipu atau impostor syndrome. Kita sering meragukan diri sendiri, bertanya, “Gue bener enggak sih? Layak enggak ya? Mampu enggak mencapai itu?”
Kadang, kita juga enggan untuk bersuara. Lalu, sulit mendelegasikan tugas karena merasa anak buah tidak bisa mengerjakannya sebaik kita. Akhirnya, kita yang mengerjakan semuanya sendiri. Kalau sudah begini, ujung-ujungnya bisa burnout.
Selain itu, ada kecenderungan untuk menghindari negosiasi. Nrimo saja, tidak berani menawar. Padahal, kenapa tidak memberanikan diri untuk negosiasi atau mempromosikan diri sendiri? Mempromosikan diri bukanlah hal yang memalukan. Kalau Anda punya kelebihan, tunjukkanlah.
Q: Menurut Anda, kenapa kehadiran perempuan dalam posisi leadership sangat penting?
M: Pertama, kita butuh perspektif yang beragam. Dalam sebuah organisasi, sudut pandang dari perempuan, laki-laki, dan berbagai level manajemen sangat berharga. Perspektif yang beragam bisa meningkatkan kinerja organisasi, apalagi mengingat konsumen kita juga beragam. Jadi, dengan memanfaatkan masukan yang beragam, hasilnya pasti lebih baik. Ini juga mendorong terciptanya ruang kerja yang lebih inklusif.
Jadi, penting banget. Apalagi di Indonesia, sekitar 50–60 persen penduduknya adalah perempuan. Lalu, mengapa perempuan harus tertinggal? Menjaga keadilan gender itu hal yang sangat, sangat krusial.
Q: Apa tantangan terbesar Anda selama menjadi pemimpin perempuan?
M: Tantangan untuk perempuan dan laki-laki sebenarnya hampir sama, sih. Tapi di era sekarang, dengan perubahan yang konstan, tantangan utamanya adalah bagaimana beradaptasi dengan baik di era digitalisasi, terutama dengan hadirnya Generasi Z.
Di tim saya banyak Gen Z. Setiap generasi punya gayanya masing-masing. Ini berhubungan dengan tantangan kedua: Bagaimana mengelola tim dengan lebih efektif? Saya lebih suka memberi kebebasan, tapi tetap ada batasannya. Batasannya apa? SOP dan KPI. Kerjakan tugas sesuai KPI-mu.
Tapi, saya akan sangat menghargai orang yang mau bekerja lebih keras dan memberikan hasil di atas ekspektasi. Saya cukup santai sebagai pemimpin tim. Let's do it, let's be creative. Melihat tren yang sedang happening itu penting, bahkan di korporat. We have to always find a way to adapt and grab our audience.
Q: Bagaimana Anda mendefinisikan sustainability, mengingat ini adalah satu pilar yang sangat difokuskan oleh perusahaan.
M: Di L'Oréal, prinsip keberlanjutan sudah meresap dalam cara kami bekerja. Baik di kegiatan pemasaran, produksi di pabrik, hingga pengiriman keberlanjutan selalu jadi pertimbangan, karena kami melihat untuk jangka panjang.
Kami yakin sustainability adalah kunci untuk masa depan. Di L'Oréal, kami punya komitmen “L'Oréal For the Future” yang punya empat pilar utama.
Pertama, transisi iklim; bagaimana kami mengurangi dampak lingkungan, seperti menekan jejak karbon. Kedua, mengamankan lingkungan; menjaga kelestarian alam agar bisnis kami tidak memberi dampak negatif.
Ketiga, mendorong ekonomi sirkular. Circularity ini penting karena kami perusahaan FMCG, kontribusi terhadap limbah bisa besar. Kami harus memastikan ada aspek daur ulang di sana.
Terakhir, bagi kami di L'Oréal, keberlanjutan harus mendukung masyarakat. Lingkungan dan masyarakat harus berjalan beriringan. Jadi, memastikan operasional sesuai prinsip keberlanjutan adalah yang utama.
Q: L'Oréal bergerak di industri kecantikan. Di satu sisi, industri ini memberdayakan, tapi di sisi lain ia juga kerap dikaitkan dengan "standar kecantikan" yang kaku. Bagaimana tanggapan Anda?
M: Ini memang seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada stereotipe kecantikan yang terbentuk di masyarakat. Namun di sisi lain, industri kecantikan punya kekuatan pemberdayaan yang luar biasa.
Kecantikan bisa menjadi sumber kepercayaan diri, ekspresi diri, perawatan diri, dan pemberdayaan ekonomi. Industri ini sangat besar. Rantai nilainya luas sekali; mulai dari petani bahan baku, pekerja pabrik, sampai karyawan di toko.
Q: Seperti apa pemberdayaan lewat industri kecantikan yang Anda maksud?
M: Di era digital sekarang, ada yang namanya influencer affiliate. Ada juga dermatolog, hairdresser. Industri ini kuat. Kami punya kampanye The Essentiality of Beauty, yang menunjukkan bagaimana kecantikan memberi manfaat ekonomi, sosial, dan bagi kesejahteraan.
Saya ingin soroti program affiliate. Ini profesi yang cukup menjanjikan sekarang. Siapa pun bisa jadi affiliate asal punya keberanian, smartphone, dan kemauan. Mereka bisa dapat komisi dari penjualan.
Kami mendukung mereka dengan akses ke produk terbaru, pelatihan, bahkan sesi penghargaan untuk kontribusinya.
Selain itu, L'Oréal banyak melakukan upskilling dan edukasi. Dalam program filantropi, kami punya pusat pelatihan di 11 lokasi di Indonesia. Sudah enam ribu orang yang bergabung dan dapat keahlian di bidang kecantikan.
Ada juga program Hairducation untuk anak SMK, agar mereka siap kerja. Kami pertemukan dengan salon mitra untuk magang. Banyak yang sekarang jadi penata rambut profesional bahkan punya salon sendiri.
Q: Bagaimana L'Oréal merangkul keberagaman dalam kecantikan?
M: Ini sudah tertanam dalam kebijakan etis kami. Kami harus mengembangkan produk yang mencerminkan keberagaman konsumen. Kami punya hampir 40 brand, masing-masing melayani kebutuhan yang berbeda-beda. Kecantikan yang etis itu penting.
Tak cuma itu, L'Oréal juga aktif dalam isu sosial yang relevan. Contoh, L'Oréal Paris punya kampanye Stand Up Against Street Harassment. Maybelline ada program Maybelline Brave Together untuk kesehatan mental.
Ada juga kampanye YSL Abuse Is Not Love tentang kekerasan dalam hubungan, dan Kerastase Power Talk untuk kepercayaan diri perempuan muda. L'Oréal Professionnel punya Hairducation untuk melatih hairdresser. Itulah brand cause yang kami usung.
Q: Bagi kumparanWOMAN, Melanie Masriel adalah seorang role model; pemimpin tangguh yang mengupayakan hal baik untuk keluarga dan perusahaan. Bagaimana tanggapan Anda?
M: Terima kasih banyak. Tapi menurut saya, saya masih dalam proses menjadi itu. Sebab, role model itu tentang menginspirasi orang lain, mengarahkan mereka pada perilaku, nilai-nilai, hingga standar sukses.
Role model bisa siapa saja. Kadang saya mengagumi seseorang karena satu dua sifatnya. Lalu, saya ingin mencontoh sifat lain dari role model yang berbeda. Jadi, tidak harus satu sosok yang kita tiru sepenuhnya.
Q: Siapa sosok yang menjadi role model Anda?
M: Dari dulu, saya sangat mengagumi Michelle Obama. Dia luar biasa. Dia adalah Ibu Negara, tapi karismanya seperti presiden, menurut saya.
Dia istri yang baik, perempuan karier yang baik, juga ibu yang baik anak-anaknya sukses semua. Dia juga ibu negara yang inspiratif. Saya suka melihat dia berpidato. Latar belakangnya sebagai pengacara dan perempuan karier, lalu dia memilih fukung mendukung suaminya. Tapi, dia tetap aktif di kegiatan nirlaba dan lainnya. Saya sangat mengaguminya.
Artikel Terkait
Ressa Rizky Rossano: Pengakuan Denada di Media Sosial Belum Cukup, Harap Bisa Bertemu Langsung
Cara Cek Daya Tampung SNBP 2026: Portal SNPMB atau Langsung ke Situs Kampus?
Prilly Latuconsina Minta Maaf Usai Status Open to Work Picu Badai Kritik
Pandji Pragiwaksono Tegaskan Bakal Lanjutkan Stand Up Comedy, Meski Tanpa Mens Rea