Massimo Freddo: Kolaborasi Kopi, Scarf, dan Harapan untuk Petani Sumatra

- Kamis, 29 Januari 2026 | 18:30 WIB
Massimo Freddo: Kolaborasi Kopi, Scarf, dan Harapan untuk Petani Sumatra

Roemah Koffie punya gebrakan baru di awal 2026. Namanya Massimo Freddo. Ini bukan sekadar menu kopi biasa, tapi sebuah perpaduan yang cukup unik: kopi Indonesia bertemu dengan resep Freddo asal Yunani. Yang menarik, inisiatif ini juga dibungkus dengan strategi kolaborasi yang melibatkan dunia fesyen, lewat bundling kopi dan scarf eksklusif.

Namun begitu, Massimo Freddo sebenarnya punya misi yang lebih dalam. Program ini dirancang sebagai bagian dari kampanye Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Tujuannya jelas: mengajak publik ikut serta dalam pemulihan kehidupan petani kopi di Sumatra yang terdampak bencana.

Ini seperti kelanjutan dari kampanye sebelumnya, Cup for Purpose. Kalau dulu setiap pembelian Cocco Koffie menyisihkan Rp15.000, kini nilai kontribusinya dinaikkan jadi Rp30.000 untuk setiap pembelian satu Massimo Freddo.

Untuk memperkuat pesannya, Roemah Koffie menggandeng brand fesyen Ghea Resort by Amanda Janna. Brand yang dikenal dengan motif budaya Indonesia seperti Sumba dan Dayak ini merancang scarf khusus yang dibundel dengan kopi. Kampanye ini sendiri rencananya bakal berjalan selama tiga bulan, mulai 28 Januari hingga akhir April 2026.

Lalu, dari mana cerita Massimo Freddo ini berawal?

Semuanya berawal dari undangan ke HORECA Expo di Athena, Yunani, pada Februari 2025. Di sana, Roemah Koffie memperkenalkan kopi-kopi unggulan Indonesia kepada para pelaku industri hotel, restoran, dan kafe di Eropa. Selama pameran, mereka didampingi oleh seorang pria bernama Massimo.

Massimo ini sangat antusias. Dia yakin betul kopi Nusantara punya kualitas dan karakter yang bisa go internasional. Suatu saat, dia pun memperkenalkan minuman khas negaranya, Freddo espresso yang difroth hingga creamy lalu disajikan dingin.

Saat resep itu dicoba pakai biji kopi Indonesia, hasilnya luar biasa. Bahkan Massomo dengan bangga mempersembahkan racikan itu ke rekan-rekannya yang kebanyakan dari Eropa. Dari situlah ide menghormati dukungan Massimo muncul, dan jadilah menu Massimo Freddo.

Di sisi lain, bagi Roemah Koffie, menghadirkan menu baru bukan cuma soal rasa. Mereka ingin ada kreativitas dan identitas budaya yang kuat. Makanya, kolaborasi dengan Ghea Resort by Amanda Janna dirasa pas.

Brand yang digagas putri desainer senior Ghea Panggabean ini memang punya ciri khas: mengangkat motif tradisional Indonesia dengan sentuhan alam. Scarf hasil kolaborasi ini mengusung motif ulos, dipadukan pola geometris, tekstur tenun, serta simbol alam seperti burung dan dedaunan. Tujuannya, memberikan pengalaman berbeda saat menyeruput kopi sekaligus menyampaikan nilai budaya.

Tak berhenti di fesyen, Roemah Koffie juga ajak Boemi Botanicals untuk berkolaborasi. Bentuknya workshop membuat spray scent yang dipairing dengan scarf tadi. Peserta diajak mengeksplorasi aroma yang terinspirasi dari biji kopi dan wewangian alam. Jadi, pengalaman menikmati Massimo Freddo jadi lebih multisensori.

Soal varian, Massimo Freddo hadir dalam tiga pilihan. Ada Aren yang manis seimbang dari gula aren, Orange yang menyegarkan, dan Coconut yang memberikan nuansa tropis elegan.

Buat yang mau dapat scarf-nya, paket bundelnya dijual Rp219.000. Kalau cuma mau cicip kopinya saja, harganya Rp59.000. Bisa didapat di semua outlet Roemah Koffie atau lewat layanan pesan-antar seperti GrabFood dan GoFood. Paket ini juga bisa ditukar dengan poin dari program loyalitas My JHL.

Denis Surya, Marketing Communication Manager Roemah Koffie, menegaskan semangat di balik kampanye ini.

“Massimo Freddo menjadi simbol bahwa kebaikan tidak berhenti di satu titik. Melalui kampanye ini, kami ingin merajut kembali harapan bagi para petani kopi di Sumatra. Setiap cangkir dan setiap scarf yang terjual merupakan kontribusi nyata untuk mendukung pemulihan kehidupan para pahlawan origin kami,” ujarnya.

Jadi, lebih dari sekadar tren minuman baru, Massimo Freddo adalah sebuah cerita tentang kolaborasi, budaya, dan kepedulian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar