Mitos ASI Tak Cukup: Saat Konselor Laktasi Jadi Penyelamat Kepercayaan Diri Ibu

- Kamis, 29 Januari 2026 | 07:06 WIB
Mitos ASI Tak Cukup: Saat Konselor Laktasi Jadi Penyelamat Kepercayaan Diri Ibu

Bayi sering nangis? Ingin menyusu terus? Atau berat badannya naiknya pelan? Banyak orang langsung menyimpulkan: ASI-nya kurang. Padahal, itu belum tentu benar. Mitos soal ketidakcukupan ASI ini masih beredar luas dan, jujur saja, jadi salah satu penghalang terbesar bagi ibu-ibu yang ingin memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya. Padahal, secara ilmiah, hal-hal tadi seringkali cuma bagian normal dari proses adaptasi si kecil dan cara kerja alami tubuh ibu dalam memproduksi ASI. Sayangnya, literasi tentang menyusui di masyarakat kita masih lemah. Informasi yang benar kalah cepat dengan kabar burung yang beredar.

Di sinilah peran konselor laktasi jadi krusial. Tugas mereka bukan cuma memberi teori, tapi meluruskan mitos-mitos itu dengan data dan fakta yang empiris. Mereka membantu para ibu memahami prinsip sederhana: produksi ASI mengikuti hukum permintaan dan penawaran. Semakin sering bayi menyusu dengan efektif, semakin banyak ASI yang dihasilkan. Konselor juga mengajarkan tanda-tanda bayi cukup ASI dan teknik menyusui yang benar.

Namun begitu, pekerjaan mereka tidak mudah. Tantangan terbesarnya justru datang dari lingkungan terdekat: omongan tetangga, saran dari keluarga, atau informasi simpang siur di media sosial yang lebih dipercaya. Edukasi yang diberikan harus dilakukan dengan penuh empati dan persuasif, agar bisa diterima bukan hanya oleh ibu, tapi juga oleh seluruh anggota keluarganya yang punya pengaruh.

Soal ASI ini ternyata tak cuma persoalan teknis. Faktor psikologis ibu memainkan peran yang sangat besar. Kelelahan, kecemasan, ditambah tekanan sosial yang menghakimi, bisa dengan mudah menggerogoti keyakinan seorang ibu. Dia lalu mulai ragu, "Apa tubuhku memang mampu?"

Konselor laktasi, di sisi lain, hadir untuk memberikan dukungan emosional itu. Mereka membangun kembali kepercayaan diri yang mungkin sudah retak. Dengan pendampingan yang tepat, perlahan-lahan ibu akan kembali yakin bahwa tubuhnya diciptakan mampu memberi yang terbaik untuk anaknya.

dr. Hayin Naila, seorang konselor laktasi dari HA-Medika Kendal, punya pandangan serupa.

"Mitos ASI tidak cukup ini muncul terutama karena minimnya pemahaman tentang proses laktasi yang normal. Sebenarnya, hampir semua ibu secara fisiologis mampu memproduksi ASI yang cukup. Syaratnya cuma satu: dapat informasi yang benar dan dukungan yang tepat," tegasnya.

Ia menambahkan, ketika seorang ibu paham betul tanda kecukupan ASI dan merasa didampingi, kepercayaan dirinya melonjak. Risiko untuk berhenti menyusui pun bisa ditekan. "Kuncinya ada pada edukasi yang komprehensif," tutupnya.

Jadi, jelas sudah. Mitos bahwa ASI tidak cukup adalah tantangan nyata yang butuh penanganan serius. Konselor laktasi punya peran strategis untuk mengatasinya, lewat pendekatan yang menyeluruh: dari ilmu pengetahuan, pendampingan teknis, hingga sentuhan psikologis. Memperkuat keberadaan dan peran mereka di puskesmas, rumah sakit, maupun komunitas-komunitas adalah langkah penting. Tujuannya satu: menciptakan budaya menyusui yang lebih sehat dan supportive, di mana setiap ibu merasa percaya diri, bukan dihantui keraguan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar