Kemenag Galakkan Ekoteologi, dari KUA Ramah Lingkungan hingga Wakaf Pohon Pengantin

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 13:40 WIB
Kemenag Galakkan Ekoteologi, dari KUA Ramah Lingkungan hingga Wakaf Pohon Pengantin

"Masjid bukan hanya pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat untuk membangun kesadaran ekologis," tambah Abu Rokhmad.

Nah, yang menarik, program Kemenag ini benar-benar menyentuh level akar rumput. Ambil contoh program wakaf pohon pengantin. Gagasannya, pasangan yang akan menikah diajak menanam pohon sebagai bentuk komitmen menjaga bumi. Program ini sudah melibatkan sekitar 1,5 juta calon pengantin di seluruh Indonesia. Lumayan, kan?

Belum lagi gerakan penanaman satu juta pohon Matoa yang digerakkan melalui jaringan Majelis Taklim di berbagai daerah. Upaya ini menunjukkan bahwa pesan lingkungan harus disampaikan dengan bahasa yang dekat dan mudah dipahami masyarakat. Caranya? Masukkan ke dalam narasi keagamaan.

Di sisi lain, Kemenag tak hanya fokus pada aksi lapangan. Mereka juga memperkuat landasan ilmiahnya. Baru-baru ini digelar International Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth. Konferensi ini menghadirkan pakar dari berbagai negara untuk merumuskan pijakan akademik yang kuat bagi gerakan ekoteologi ke depan.

Melalui rakernas yang mengusung tema "Menyiapkan dan Melayani Umat Masa Depan" ini, target Ditjen Bimas Islam jelas: ingin menjadikan perilaku ramah lingkungan sebagai gaya hidup baru. Sebuah gaya hidup yang tidak hanya baik untuk dunia, tetapi juga bernilai ibadah.


Halaman:

Komentar