Kisah Para Ibu: Dari Pujian Sederhana hingga Ajarkan Anak Berani Membela Diri

- Rabu, 21 Januari 2026 | 15:12 WIB
Kisah Para Ibu: Dari Pujian Sederhana hingga Ajarkan Anak Berani Membela Diri

Di lingkungan sekolah, kita sering melihat anak-anak yang terlihat malu atau takut berbuat salah. Pemandangan ini sebenarnya wajar, tapi kalau dibiarkan terus, bisa menghambat tumbuh kembang mereka. Makanya, penting banget bagi orang tua untuk mulai menanamkan rasa percaya diri sejak usia dini.

Soalnya, kepercayaan diri ini benar-benar memengaruhi cara anak melihat nilai dirinya dan bagaimana ia bergaul dengan teman sebaya. Bahkan, ada yang bilang anak yang percaya diri biasanya lebih berprestasi di sekolah, mentalnya lebih tahan banting, dan gak ragu mengambil inisiatif. Hal-hal positif seperti inilah yang pastinya diidamkan semua orang tua.

Nah, pertanyaannya, gimana sih cara menumbuhkannya? Beberapa ibu dari komunitas kumparanMOM punya pengalaman menarik yang bisa jadi inspirasi.

Membangun Kepercayaan Diri Anak: Cerita dari Para Ibu

Rupanya, membangun rasa percaya diri bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Seperti yang dilakukan Mom Riesca (38). Ia terbiasa memberikan pujian dan afirmasi positif atas kelebihan yang dimiliki anaknya. Menurut Riesca, ketika anak sudah bisa bangga dan menerima dirinya sendiri, rasa percaya diri itu akan muncul secara alami.

Bagi ibu asal Bekasi ini, kepercayaan diri adalah bekal penting untuk kehidupan sehari-hari. Anak jadi lebih mudah bergaul di berbagai situasi, mampu mengendalikan emosinya, dan yang utama, bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Tips lain yang tak kalah penting adalah intensitas berkomunikasi. Cobalah ajak anak ngobrol tentang perasaannya, dengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh, dan ciptakan rasa aman baginya untuk mengekspresikan apa pun yang ada di hati.

Pendekatan serupa tapi dengan nuansa berbeda diterapkan oleh Mom Mutiara (30). Ia memilih cara yang lebih tegas untuk membentuk kepribadian anaknya, terutama setelah sang anak mengalami kejadian tidak mengenakkan di sekolah.

Waktu anaknya dijahili teman sekelas, Mutiara berusaha membangkitkan keberaniannya agar bisa membela diri dan tidak hanya diam.

“Saya bebaskan dia untuk berekspresi ketika dia kesal dengan temannya di kelas,” ujarnya.

Bentuk penentangan yang diajarkan pun beragam.

“Misal kamu boleh berteriak kalau next time gambar kamu dicoret lagi, kamu boleh tunjukkan kalau kamu nggak suka ataupun nggak nyaman sama tindakannya itu. Dan bahkan boleh membalas jika memang perlu,” tambahnya.

Alhamdulillah, seiring dengan tumbuhnya keberanian, kepercayaan diri anaknya pun ikut merangkak naik. Sekarang, si kecil bisa menjadi dirinya sendiri tanpa diliputi rasa cemas, karena tahu orang tuanya selalu ada untuk mendukungnya.

Pengalaman lain datang dari Mom Chalinda (35). Ia punya cara yang lebih terstruktur, membagi prosesnya dalam beberapa tahap.

Pertama, membantu anak memahami tujuan yang ingin dicapai dan menyemangatinya untuk meraih tujuan itu. Kedua, memberikan dukungan moral dengan mengapresiasi setiap usaha, serta lebih memilih mengevaluasi bersama saat anak gagal, ketimbang langsung mengoreksi. Ketiga, mendampingi anak mempelajari hal-hal baru, sehingga pengalaman berharganya makin banyak dan rasa percaya dirinya makin kuat.

“Jadi peran kita tidak hanya sebagai orang tua, namun juga partner untuk mendorong kemajuan anak,” tutur Chalinda.

Dari berbagai upaya itu, ia melihat perubahan yang menggembirakan. Anaknya jadi tidak takut gagal, lebih fokus pada tujuan, tidak gampang tersinggung saat dikritik, dan justru menjadikan pujian sebagai motivasi untuk jadi lebih baik lagi.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Membangun kepercayaan diri anak memang perjalanan yang unik untuk setiap keluarga.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar